"Tentang benda-benda yang engkau punya dan engkau banggakan. Tentang gaya hidup yang kau kenakan dan bahkan kini kau tuhankan. Tentang kekinian yang selalu saja engkau bicarakan. Tentang status dan posisi tawarmu di penglihatan orang-orang. Tentang nama besar yang engkau sandang dan engkau busungkan. Tentang seberapa pintar dan cemerlangmu di penglihatan orang-orang. Tentang satu, dua, tiga peperangan yang pernah kau menangkan. Kalimat menjatuhkan yang jadi sering engkau ucapkan, kau hujamkan. Jangan harap itu bisa mengesankanku dan menjatuhkanku..." (Jenny-120)

Thursday, November 28, 2013

RUMAH GEMBEL
"Reka Ulang Rumah Gembel melalui Seni Rupa"
Oleh: Hermanto Soerjanto, Curator/ Chief Creative Officer Pantarei Inc.

Lewat proyek seni “Rumah Gembel” ini kami mencoba untuk mengangkat sebuah realitas yang sangat akrab dalam keseharian kita, namun sangat jauh dari kesadaran kita. Bahkan sebagian orang malu untuk mengakui bahwa pemukiman kumuh atau “rumah gembel” ini merupakan bagian dari identitas kota yang kita huni. Lewat proyek seni ini kami mengajak untuk jujur terhadap identitas lokal kita.


Ide dari proyek seni ini adalah untuk mereka ulang keberadaan “rumah gembel” ini di ruang publik yang berbeda, di Mal, sebuah ruang publik yang sangat akrab dengan ‘masyarakat menengah-atas’ Jakarta. Objektif dari proyek seni ini adalah: melalui seni rupa, kita dapat merubah kesadaran publik akan keberadaan “rumah gembel.”



“Rumah Gembel” yang dalam realitas keseharian kita dianggap memalukan, simbol dari negara berkembang, melalui campur tangan seni rupa kami harapkan akan dapat diterima dan berinteraksi dengan publik yang konon malu untuk mengakui keberadaan “rumah gembel” ini sebagai bagian dari identitas dirinya.

Dalam proyek seni ini, kami membangun sebuah “rumah gembel” berukuran 200 x 300 x 300cm. Bahan yang digunakan untuk membangun “rumah gembel” ini adalah barang-barang temuan, atau barang-barang loakan. Hal ini untuk mempertahankan feel ke-gembelan dari “rumah gembel” ini. Pada umumnya, dinding “rumah gembel” ini dibuat dengan teknik tambal-menambal dari berbagai macam barang temuan, seperti kardus bekas, triplek bekas, seng bekas, terpal plastik, dan sebagainya.
Dalam proyek “Rumah Gembel” ini, setiap keping dari bagian dinding direspons oleh seorang seniman, sehingga sebagai hasil akhirnya terbentuk sebuah “rumah gembel” yang dindingnya terbuat dari banyak karya-karya seni.


GENERASI MIE GORENG
Potret generasi Indonesia, di era Post-Reformasi.

Kebetulan saya ikut berpartisipasi dalam proyek Rumah Gembel ini, dengan menyumbangkan karya lukisan pada media papan kayu jati yang berjudul "Generasi Mie Goreng".

Karya saya ini mengangkat tema tentang generasi muda Indonesia yang saat ini terlihat agak melenceng dan semakin menjauh dari kodrat mereka sebagai generasi penerus bangsa. Generasi tersebut nampak sedikit menyeleweng dari konsep awal Founding Fathers dalam membangun generasi calon pemimpin masa depan Indonesia, yang diharapkan menjunjung tinggi kearifan lokal dan kepribadian Nusantara. Budaya konsumtif, hedonis, western, dan penuh hura-hura seakan telah mengakar dan menjadi sebuah budaya yang egaliter, mampu diterima dan diterapkan oleh berbagai kalangan di Indonesia baik itu kalangan menengah ke atas atau bahkan kalangan paling bawah, atau yang biasa disebut dengan komunitas gembel. 

Sungguh mengherankan ketika melihat pengemis yang makan di restoran cepat saji waralaba luar negeri atau pemulung yang tengah asik bermain hape canggih berharga jutaan rupiah. Tidak salah memang, karena itu hak mereka dan uang hasil kerja mereka. Masalahnya adalah ketika mereka menjadikan pengemis sebagai profesi dan pekerjaan tetap, serta benda-benda tersier impor dijadikan kebutuhan primer yang menyingkirkan kebutuhan pendidikan atau sandang-pangan-papan. Mereka seakan lebih memilih menggunakan uang mereka untuk kredit sepeda motor ber-cc besar daripada menyekolahkan anak mereka di sekolah yang berkualitas. Kebutuhan konsumsi anak-anak pun dicukupi dengan produk-produk cepat saji yang nilai gizinya jauh dari standar. Permainan-permainan lokal yang kreatif, murah, dan menyehatkan jaman dulu (gobak sodor, congklak, gasing) mulai terisisih diganti gadget berlayar pixel yang berpotensi membuat mata minus serta tubus kurus. Ditambah lagi tontonan televisi yang hanya berisi drama dan hiburan, tanpa pesan moral dan inspirasi positif. Tidak aneh kalau kisah hidup mereka pun seperti drama kolosal yang tragis dan ironis. 

Gadget-gadget canggih kini menjadi benda-benda yang lekat dengan mereka, entah itu anak-anak gembel ataupun anak-anak "the have", bukan lagi buku LKS ataupun sempoa untuk berhitung. Mereka lebih memilih membeli mainan daripada menciptakannya. Para orang tua Indonesia sepertinya tidak mengkonsep anak-anak mereka untuk menjadi seorang pemimpin ataupun enterpreneur sejati, tetapi lebih sebagai konsumen. Budaya generasi muda sekarang sama dan seragam, entah itu kalangan bawah, menengah, ataupun atas. Sama-sama beli, beli, dan beli. Pemerintah pun nampak tak bisa berkutik menghadapi agresi budaya dari Barat. Mereka terlihat sangat panik ketika dollar naik atau diterapkannya embargo ekonomi oleh Amrik. Kita benar-benar menjadi bangsa yang tidak bisa mandiri, bergantung pada barat, entah itu dari segi ekonomi, politik, ataupun budaya. Tidak ada pendidikan dini yang panjang dan terarah, yang pada akhirnya bisa mencetak generasi mumpuni untuk membangkitkan kekuatan dalam negeri. Yang ada adalah pendidikan yang kurikulumnya berubah-ubah dan berorientasi pada hasil akhir berupa UAN. Keberhasilan kini tidak didapatkan melalui proses yang panjang, tapi sebisa mungkin secara cepat dan praktis. KKN dan suap akhirnya menjadi budaya yang merajalela dan turun-temurun. Mungkin karena mereka semua terlalu banyak mengkonsumsi mie instan, sehingga pikiran mereka juga semakin instan. Tapi bagaimanapun juga inilah Indonesia, kita harus tetap mecintainya sebagai tanah air dan bumi pertiwi. Tugas kita bersamalah untuk menjadikannya lebih baik, meluruskan yang bengkok dan membersihkan yang kotor. Semoga.


*Karya Rumah Gembel ini dipamerkan dan bisa disaksikan di Pondok Indah Mal mulai 28 November 2013.

Friday, August 30, 2013

Drawing akhir Agustus.

Sambil nungguin kerjaan datang dari traffic, itung-itung nostalgia dengan yang namanya pensil mekanik dan penghapus karet. Terlalu sering dengan pen wacom dan layar imac juga kayaknya gak baik. Digital-manual, keduanya harus berjalan bergandengan tangan dan bersahabat bagai kepompong. Selamat menggambar :)




Wednesday, June 19, 2013

Catatan ringan: Tentang sebuah postingan di Kaskus berjudul "Have I Told You Lately That I Love You"

                                                Hanya ilustrasi, mumpung ada karya saya yang agak romantis.

Hari itu Selasa, saya sedang iseng buka Kaskus disela padatnya kerjaan kantor yang tak kunjung habis. Buka Kaskus pada jam kerja, di kantor lagi, terlihat tidak produktif memang, tapi terkadang saya butuh refreshing dengan membaca hal-hal tidak penting di forum lounge portal itu. Sekedar membaca lawakan terbaru komik Mat Kosim atau melihat postingan-postingan menarik seputar misteri Crop Circle yang tak kunjung terpecahkan. Ketika sedang asik membaca-membaci (istilah baru), teman saya, Nola, melintas lalu berhenti sejenak. Ketika melihat saya sedang membuka Kaskus, dia bilang, "kamu harus baca ini!", lalu dia kirim link lewat YM. YM kami memang selalu available ketika bekerja agar gampang tek-tokan antara kreatif dan account ketika ngurusin job. Maklum anak ahensi, miskomunikasi sama dengan lembur malam ini.

Saya agak tidak terlalu menghiraukan perkataan dan kiriman link teman saya itu, karena saya sedang asik membaca kisah di balik lepasnya Timor-Timur dari Indonesia, dengan tokoh-tokoh keren seperti Eurico Guitteres, Xanana Gusmao, dsb. Tapi akhirnya saya buka juga link itu. Sebuah link yang merujuk pada sebuah postingan di Kaskus yang berjudul "Have I Told You Lately That I Love You". Dalam hati saya, "ow-ow, kisah cinta remaja nih". Ada banyak page postingan yang sudah dirangkum dalam page pertama, ceritanya akan cukup panjang saya rasa. Sebenarnya saya tidak begitu suka membaca teenlit, tapi karena tak mau mengecewakan teman, akhirnya saya pun membacanya.

Di awal-awal cerita, penulis memposisikan dirinya dalam kisah itu sebagai orang pertama bernama Nanda, anak kelas 3 SMA, tokoh protagonis tampaknya (selalu nih). Tokoh ini terlihat cukup tangguh dan mandiri dalam menjalani hidup, karena sudah kost di saat masih SMA. Katanya sih (kalau tidak salah) karena orang tuanya kerjanya jauh dari kota, jadi dia memutuskan untuk kost dengan sesekali pulang ke rumah orang tuanya yang ada di tepi pantai.

Drama pun dimulai. Sejak dari awal sekolah Nanda mencintai teman sekolahnya bernama Lisa, pencinta kucing, anak orang kaya sepertinya, karena setiap hari pergi ke sekolah diantar sopir. Nanda terlihat sangat menyukai Lisa karena dia sampai rela datang lebih awal tapi masuk kelas paling akhir, demi menunggu Lisa di gerbang sekolah, melihatnya turun dari mobil sampai akhirnya si pujaan hati masuk ke kelas. Perkembangan cinta Nanda kepada Lisa terbilang lambat, karena sampai kelas 3 saja dia baru sampai tahap menyapa. Tapi Nanda tidak patah arang untuk mendapatkan Lisa, dia selalu berusaha mendekat, apalagi Nanda selalu didukung oleh teman baiknya yang bernama Ari. Sampai suatu saat sapaan Nanda kepada Lisa akhirnya bersambut. Singkat cerita mereka mulai dekat, dari sering ngobrol di kantin, smsan, sampai pergi berdua ke toko buku. Nanda selalu menceritakan perkembangan cintanya dengan Lisa kepada Ari, dan layaknya berperan sebagai Dewa Asmara, Ari selalu memberi saran-saran romantis hingga cenderung agresif demi keberhasilan romansa cinta teman karibnya tersebut. Dan entah berkat bantuan Ari atau tidak, Nanda semakin lengket dengan Lisa. Selamat! Sampai di sini saya mulai agak bosan membaca cerita ini, karena plot dan temanya sepertinya akan biasa saja, walaupun gaya penyampaian cerita dan penjelasan detil kejadian atau settingnya cukup bagus. Sampai akhirnya muncul tokoh baru, cewek pindahan dari Bandung bernama Putri. Si tokoh ini lah yang membuat saya mengikuti cerita ini sampai selesai.

Si Putri ini menurut saya karakter yang cukup menarik. Dia punya hobi menggambar di sketchbook. Katanya sih, dia suka menggambar orang-orang yang dia anggap penting. Dia juga sering menggambar di udara. Hah, maksudnya? Jadi dia cuma menatap kosong ke depan, lalu menggerak-gerakkan tangan di depan wajahnya seperti orang melukis, lucu kan? Pertama masuk kelas dia sudah ditakdirkan duduk di samping Nanda. Hari pertama sekolah saja dia sudah membuat Nanda heboh dengan hilangnya sketcbooknya, dan dia pasang muka memelas dengan mata berkaca-kaca mau nangis, sampai akhirnya Nanda terpaksa bantu mencari. Akhirnya ketemu, hore! Mereka berdua akhirnya sering duduk sebangku dan semakin akrab. Di sinilah  konflik mulai terjadi, Nanda semakin dekat dengan Lisa, namun semakin akrab juga dengan Putri. Kalau kata Nanda, Lisa seperti malam yang sinar bulan dan gemerlap bintangnya selalu membuatnya rindu mendayu-dayu. Sedangkan Putri seperti pagi cerah dengan segala kesegarannya yang selalu membuat Nanda nampak ceria. Nanda sering pulang sekolah bareng Lisa, bahkan Lisa sampai sering pagi-pagi minta dianter sopirnya ke kost Nanda, demi berangkat ke sekolah bareng berboncengan dengan motor butut milik Nanda. Nanda pun terharu. Dengan Putri pun Nanda sering diajak pergi bareng, tapi ke tempat yang agak tak biasa, panti jompo. Aneh kan cewek ini, ngajak ngedate ke panti jompo, tapi itulah kenapa saya suka karakter yang satu ini. Kenapa Putri suka ke panti jompo? Alasannya agak klise, menurut dia panti jompo adalah tempat kumpulan manula yang “dibuang” oleh anak-anaknya. Putri kasihan, itu saja. Di panti jompo itu Putri sudah akrab dengan seorang nenek yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya, yang biasa dia panggil Oma. Dia sering membawakan Oma makanan, bahkan menyuapinya, meskipun Oma sering lupa padanya. Katanya kasihan Oma, sudah 3 kali lebaran tidak dikunjungi keluarganya. Nanda pun kagum dengan Putri. Waduh gimana nih, cewek yang satu bikin terharu, yang satunya lagi bikin kagum, intinya dua-duanya OK lah. Mulai bimbang nih Nanda.

Hari-hari dilalui Empat Sekawan ini, Nanda, Lisa, Putri, Ari, dengan menarik. Mereka sering bepergian bareng, menginap di rumah Nanda, memancing bersama di dermaga, dsb. Kejadian-kejadian klise layaknya FTV pun mulai sering terjadi, seperti Nanda dikeroyok preman gara-gara melindungi Lisa, Nanda yang dikeroyok pacar Putri dan teman-temannya (oia Putri punya pacar yang agak kasar, over-protektif, antagonis pokoknya, tapi akhirnya putus kok), keluarga Nanda yang terlibat hutang, sampai konflik bathin karena ternyata Ari menyukai Putri, dan Putri lebih condong ke Nanda. Di sini sepertinya Nanda menjadi tokoh yang diperebutkan dua wanita, Lisa dan Putri. Maklum lah, penulis sekaligus orang pertama gitu, hahahaha. Sedangkan Ari nampak sebagai pelengkap saja, tokoh yang menunggu Nanda memberi belas kasihan dengan merelakan Putri untuknya. Cinta segi empat atau mungkin trapesium atau bahkan jajar genjang pun telah terjadi. Sampai akhirnya Putri mengalah dengan meninggalkan Nanda, tepat di hari selesai UAN, demi memberi kesempatan Nanda berpikir untuk memilih dia atau Lisa. Putri berkata, “kita akan bertemu 3,5 tahun lagi”, kata yang dipegang oleh Nanda yang ternyata lebih memilih Putri.

Plot cerita yang runtut di masa SMA ini langsung melompat-lompat ketika memasuki masa kuliah. Di sini penulis, yang sekaligus tokoh utama, juga mulai memainkan setting waktu, masa lalu dan masa kini. Singkat cerita, karena rasa kangen gara-gara sudah tak bertemu bertahun-tahun yang sudah terlampau tak tertahan, Nanda mencari Putri dengan segala cara. Sampai akhirnya menemukan account Putri di Friendster. Jaman itu Friendster masih populer lho. Nanda selalu memantau account Putri walaupun jarang apdet status dan friendrequest-nya belum diaccept. Sampai akhirnya Nanda membaca status terbaru Putri yang berkata, “Di Bandara Soekarno-Hatta terminal 1, pesawat pending 4 jam, huft (kira-kira seperti itu)”. Nanda pun langsung cabut, bongkar tabungan, beli tiket pesawat demi bisa masuk bandara, dan langsung menuju bandara. Kesempatan bertemu Putri nih, pikirnya. Akhirnya mereka berdua bertemu, berpelukan, dan ternyata tiket ke Medan yang dibeli asal-asalan oleh Nanda membawanya satu pesawat bersama Putri. Mereka berdua ke Medan, ke rumah Putri, dengan bahagia tentunya. Satu minggu Nanda di rumah Putri, menjalin kasih (cieee) dan berjanji menikah. Sampai akhirnya Nanda kembali ke Jakarta karena harus meneruskan kuliah. Mereka sering saling telepon, kirim sms, sampai akhirnya Nanda mendapat kabar bahwa Putri meninggal karena kecelakaan. Nanda tampak terpukul dan tidak bisa merelakan Putri. Berakhir sedih kayaknya nih cerita. Selang berapa lama akhirnya Nanda bisa move on, dan meneruskan hidupnya. Nanda akhirnya menikah dengan wanita lain, sedangkan Lisa menikah dengan Ari. Beruntung ya Ari, hahahaha. Tamat.

Apa yang menarik dari cerita ini? Di lihat dari tema, plot, alur mungkin biasa saja, sama kayak sinetron. Pacaran segitiga (atau lebih), salah satu meninggal, dan si tokoh utama akhirnya tidak mendapatkan dua-duanya. Biasa kan. Yang menarik menurut saya adalah, cara bercerita penulisnya yang sangat runtut, mampu membangun imajinasi, dan sangat detil. Saya bisa menikmati cerita ini dengan jelas dan gamblang karena diceritakan secara terstruktur mulai dari awal sampai akhir. Dari Nanda mendekati Lisa, bertemu Putri, terlibat konflik dengan Ari, bersekolah sambil bekerja, berjuang untuk bertemu Putri setelah menunggu bertahun-tahun, sampai akhirnya berakhir tragis. Ketika membaca cerita ini saya juga mampu membayangkan bagaimana setting tempatnya, seperti apa kejadian yang terjadi, atau bagaimana rupa visual karakter tiap tokohnya. Misalnya bagaimana suasana kost si Nanda dengan adanya ayunan besi dengan sedikit karat di halamannya, bagaimana karakter si Putri dengan rambut kuncir kuda dan menyisakan sedikit di samping kedua telingannya, bagaimana suasana ketika Nanda makan bekal bersama Lisa di bawah lampu di pom bensin tempatnya bekerja, bagaimana suasana rumah Putri di Bandung, bagaimana suasana rumah Nanda di tepi pantai, dan sebagainya. Bagian-bagian itu diceritakan dengan sangat rapi dan detil. Untuk sekelas penulis postingan di Kaskus, si Nanda ini cukup jago menurut saya. Walapun tema cerita yang diangkatnya biasa saja, namun dia bisa membangun konstruksi kisah yang sangat indah dan membangun imajinasi. Apalagi, katanya nih, cerita ini berdasarkan kisah nyata. Wow, beruntung sekali dia memiliki kisah hidup yang sangat noveliable, perasaan kisah hidup saya sampai saat ini flat saja, datar seperti meja. Dia juga mampu mengingat dengan jelas setiap frase dalam kisah hidupnya itu. Sepertinya memang bakat menulis, walaupun dia mengatakan bahwa dia kuliah jurusan IT. Dia juga tidak lupa menambahkan pesan-pesan moral nan agamis dalam ceritanya tersebut. Lengkap deh untuk dicetak dalam bentuk novel.

Intinya, untuk sekelas postingan di Kaskus cerita ini OK. Lebih bagus dari cerita-cerita horror bersambung yang sering diceritakan asal-asalan. Terlepas cerita ini fiksi atau non-fiksi, saya menganggap penulis sudah berbaik hati untuk menuliskan sebuah cerita yang membuat saya berpikir untuk mulai sekarang, tidak hanya membaca buku-buku cultural studies atau novel Pramoedya Ananta Toer saja, melainkan banyak tulisan-tulisan bagus lainnya yang seharusnya juga saya baca, untuk menambah khasanah berpikir dan berimajinasi tentunya. Tabik.


Bagi yang ingin membaca kisah ini selengkapnya bisa buka di kaskus ya...

Thursday, May 2, 2013

Resensi Pinasthika Creative Festival 2011: Iklan Syariah Tak Kalah Kreatif


Pinasthika Creative Festival 2011 (Pinasthika ke-12) telah diadakan di kota Yogyakarta pada tanggal 28-29 Oktober yang lalu. Pagelaran kreatif yang berlangsung dua hari ini dapat dikatakan berjalan dengan cukup sukses, meskipun dari tim juri ada yang mengatakan bahwa kualitas karya yang masuk pada tahun ini mengalami sedikit penurunan. Meskipun demikian harus diakui bahwa industri kreatif nasional Indonesia semakin hari semakin berkembang dan bergerak ke arah kamajuan yang cukup signifikan, khususnya dari segi kuantitas. Industri kreatif dan agensi lokal mulai banyak bermunculan meramaikan jagat kreatif Indonesia. Hal ini tak ayal ikut menciptakan persaingan kreatifitas yang semakin ketat di dalamnya. Persaingan kreatifitas tersebut diharapkan dapat semakin meningkatkan kualitas karya industri kreatif Indonesia, yang pada akhirnya dapat menyejajarkan industri kreatif Indonesia dengan negara-negara lain, khususnya di regional asia tenggara, atau bahkan melampauinya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara Pinasthika Creative Festival tahun ini juga diisi dengan seminar kreatif yang menampilkan jagoan-jagoan kreatif sebagai pembicara baik dari lokal maupun asing. Tema acara yang berbunyi ‘Magical Idea’ ini tampak terimplementasikan pada seminar-seminar yang membahas hal–hal magis periklanan mulai dari ‘marketing magical ideas’ hingga‘how to create magical brands’. Pembicara seperti Masako Okamura (Creative Director Dentsu Inc.), Birger Linke (Creative Director Leo Bunnet Shanghai), Graham Kelly (GKIM Pte Ltd), hingga Sakti Makki (President Director Makki Makki) tampak mampu menarik perhatianaudience dengan sharing dan tanya jawab yang cukup hangat serta penuh semangat. Acara seminar ini juga memperlihatkan bagaimana antusiasme insan kreatif Indonesia dalam upaya meningkatkan kemampuan kreatif, problem solving, hinggamaking the great idea guna menembus pasar kreatif regional hingga internasional.

Syafa’at Marcomm sebagai bagian dari PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) Daerah Istimewa Yogyakarta juga turut serta dalam pagelaran kreatif bertajuk Pinasthika Creative Festival 2011 ini. Mulai seminar hari pertama hingga penutupan berupaawarding night selalu diikuti oleh tim Syafa’at Marcomm guna manambah khazanah kreatifitas periklanan serta menjalin silaturahmi dengan agensi periklanan Indonesia yang lain. Selain itu, beberapa karya Syafa’at Marcomm juga dimasukkan ke dalam perlombaan kreatif dalam event ini dan hasilnya pun sangat membanggakan.  Syafa’at Marcomm mendapatkan award berupa tiga gold meliputi Gold  TVC Super Gizi Qurban, Gold Medal – Omega Nusantara Corp ID dan Penghargaan Khusus Best Entry Bawana pilihan jury), satu silver, tiga bronze dan empat penghargaan finalis. Karya yang mendapatkan award tersebut meliputi karya kreatif periklanan antara lain berupa TVC, print ad, graphic design, dan lain sebagainya.

Iklan Super Gizi Qurban versi Beatbox - Syafa'at Marcomm Yogyakarta

Seperti diketahui, awarding dalam event Pinasthika tidak berdasarkan pada peringkat rangking terbaik, seperti misalnya perangkingan dalam sekolah yang selalu memiliki peringkat satu, dua, dan seterusnya. Penilaian dalam event ini menggunakan perolehan poin yang harus melampui ambang batas kreatif dari tim juri agar bisa masuk dalam karya finalis. Karya finalis ini nantinya akan disaring lagi guna mendapatkan juaranya, jika memang ada yang layak menjadi juara. Artinya sebuah kategori dalam lomba kreatif ini dapat tidak memiliki satupun finalis atau pemenang, baik gold, silver, atau bronze, jika tim juri menganggap memang tidak ada yang layak untuk mendapatkannya. Hal yang sangat membanggakan adalah bahwa sebagai agensi marketing komunikasi berbasis syariah, Syafa’at Marcomm menjadi satu-satunya agensi nasional yang mampu mendapatkan medali emas dalam iklan kategori bawana. Kategori bawana adalah kategori lomba iklan yang melibatkan seluruh agensi periklanan Indonesia termasuk dari DKI Jakarta. Selain kategori bawana masih ada kategori baskara, yaitu perlombaan iklan bagi agensi seluruh Indonesia kecuali dari DKI Jakarta, serta kategori graphic design dari seluruh Indonesia. Penghargaan khusus didapat Syafa’at Marcomm, “TVC “Supergizi Qurban” selain sebagai satu-satunya entry yang mendapatkan Gold di Bawana juga mendapatkan Best Entry Bawana pilihan juri.

Iklan yang syar’i tidak berarti harus kehilangan sisi kreatifitas. Justru karena banyak hambatan itulah muncul tantangan untuk mencipta iklan yang selain mampu menjual, juga kreatif, dan tentu saja… tetap syar’i.

Artikel ini juga diposting di http://syafaat.com/ dengan judul "Best Entry Bawana, Gold TVC Super Gizi Qurban"

Monday, April 22, 2013

Sejarah Thailand hanya seharga Rp 6500.


Ini adalah gambar saya yang saya ikut lombakan di sayembara desain kaos dalam rangka Outing 2013 di kantor saya. Tapi sayang kalah, hehehe. "Nggak apa-apa Bro, buat portofolio", kata temen saya memberikan harapan semu. FYI Beberapa waktu yang lalu, saya bersama teman-teman satu kantor pergi outing ke Bangkok, Thailand. Ritual tahunan ini menjadi cukup menarik karena kita akan mengunjungi negara yang katanya menjadi trend setter dunia periklanan se-Asia Tenggara. Banyak kegiatan yang kita lakukan di sana, mulai dari berwisata ke Wat Arun, menyusuri sungai Chao Phraya, mengunjungi Sleeping Buddha, jalan-jalan ke Bangkok Art Centre, belanja oleh-oleh kaos di pasar yang saya lupa namanya, dsb. Sepulang dari sana yang tentunya dengan sejuta cerita, kami disuruh oleh pihak kantor untuk membuat artikel perihal kegiatan outing kita di Bangkok. Artikel itu bisa berbicara tentang apa saja dan nantinya akan ditampilkan di website kantor. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya saya memutuskan membuat artikel tentang sejarah Bangkok yang diintip dari sebuah lapak di trotoar jalan, yang sempat terekam mata dan kamera saya ketika jalan-jalan.

Pertama kali mendengar sejarah Thailand, saya langsung teringat dengan film Yamada: The Samurai of Ayothaya, sebuah film epik bersetting kerajaan Thailand pada jaman dulu. Dalam film tersebut banyak ditampilkan adegan beladiri kuno Thailand dengan gaya berdandan pendekarnya yang sedikit progressif, badan bertato dengan rambut gaya mohawk dan kumis panjang, cukup modis untuk ukuran fesyen jaman itu. 

Tapi di sini saya tidak akan ngomong tentang film, melainkan tentang sebuah lapak jualan di trotoar jalanan kota Bangkok yang menggelar dagangan berupa foto-foto seputar Thailand pada jaman dulu. Uniknya, foto-foto tersebut dijual dengan harga yang cukup murah, hanya THB 20 atau setara kurang lebih 6500 rupiah untuk foto seukuran A4. Foto-foto bernuansa sephia tersebut hanya terbungkus plastik dan disebar rapi pada sebuah alas di trotoar jalan, hampir mirip jualan hp bekas di sekitar Stasiun Senen. Mungkin kita juga sering lihat di Indonesia foto-foto tentang negeri kita jaman dulu, tapi ada yang berbeda dengan foto-foto yang dijual di trotoar jalanan kota Bangkok ini.



Yang membedakan adalah foto-foto jadul Thailand ini hampir tidak ada yang menampilkan adegan-adegan seputar kerja paksa, perang gerilya, suasana bangunan bergaya Eropa, dikotomi nederlander-inlander (majikan bule dengan gundik pribumi), atau adegan-adegan lain yang biasa kita temui di foto-foto Indonesia jaman dulu. Yang ditampilkan hanya seputar suasana kota/kerajaan tempo dulu, alat transportasi pada masa itu, potret biksu, potret keluarga kerajaan, perayaan-perayaan hari besar, dan semacamnya. Hal inilah yang mungkin membuat harga foto-foto kuno ini tidak terlalu mahal. Tidak adanya kisah miris seputar kerja rodi dan tanam paksa, kisah heroik perjuangan merebut kemerdekaan, dan momen-momen imajinatif lain seperti yang terjadi di Indonesia, membuat foto-foto tersebut hanya memiliki sedikit makna sejarah dan tidak mampu bicara sebanyak foto-foto Indonesia jaman dulu. Mungkin inilah kekurangan negeri yang tak pernah terjajah bangsa Eropa, dan kita walaupun dulu pernah terjajah 3,5 abad patut berbangga, karena kita punya sejuta kisah patriotis yang tidak pernah habis untuk diceritakan kepada anak cucu kita. Damn, I love Indonesia! 

*Sebagian artikel ini juga dimuat di http://www.pantarei-ad.com/

Saturday, April 20, 2013

Local Heroes Komik Indonesia


Sebenarnya ini gambar lama, tugas kuliah, tapi entah mengapa saya ingin mempostingnya. Mungkin ada hubungannya dengan kearifan lokal yang sedang digalakkan, atau mungkin saya sayang saja kalo sampai gambar ini hilang dalam harddisk komputer. Gambar ini adalah salah satu bukti bahwa Indonesia punya komik, walaupun sebagian mirip-mirip dengan komik Barat, maklum karena terlalu terinfluence mungkin. Tapi bagimanapun juga inilah karya pribumi yang patut kita lestarikan dan kita teruskan nafas hidupnya.

Saya jadi teringat dengan apa yang dikatakan Creative Director saya di kantor, perihal Jepang, dalam hal ini yang saya bahas adalah komik Manga-nya. FYI Creative Director saya (selanjutnya ditulis CD), baru saja pulang dari Jepang, dan di sana beliau sempat berkunjung ke salah satu pameran desain. Setelah kembali ke Indonesia diadakanlah creative sharing di kantor perihal pameran tersebut, hingga pada akhirnya obrolan kita sampai pada komik Jepang, Manga.

Menurut CD saya, komik Jepang yang sekarang sebegitu hebatnya pada awalnya juga terinspirasi dari komik Barat sama seperti Indonesia. Bedanya adalah Jepang kemudian memproduksi komik yang mempunyai karakter sendiri dan berbeda dengan komik Barat, walaupun mungkin tidak lebih bagus, sedangkan Indonesia plek-njiplek mengadopsinya, hanya menerjemahkan nama dan sedikit memodifikasi kostum hingga jadilah Laba-laba Merah, Gundala, Godham, dkk. Proses ini berkaitan dengan bagaimana cara melihat dan mereproduksi dari masing-masing influencer.
Seperti yang kita ketahui dalam teori intertekstualitas, sebuah teks (verbal/visual) yang muncul tidak akan pernah lepas dari teks terdahulunya, begitupun juga komik. Komik Jepang tidak akan muncul tanpa adanya komik Barat, dan komik Barat mungkin tidak akan muncul tanpa adanya relief Candi Borobudur atau gambar purba di Goa Maros. Yang membedakan adalah bagaimana cara kita melihat dan bagaimana cara kita mereproduksi teks terdahulu menjadi teks hasil buah karya kita saat ini. Dalam fase yang pertama yaitu 'fase melihat', Jepang terbiasa melihat suatu hal dengan membreak down dan menganalisa satu persatu bagian dari apa yang mereka lihat. Misalnya mereka melihat sebuah komik, maka mereka akan memisahkan satu persatu bagian dari komik tersebut, mulai dari font, gaya gambar, elemen grafis, warna, bahan, dsb, untuk memahami mengapa komik tersebut memakai warna itu, memakai font itu, memakai bahan itu, gaya gambar itu, dst.

Setelah mereka mencari tahu alasan hingga issue-issue yang ada di belakangnya barulah mereka menuju fase kedua, 'fase reproduksi'. Pada fase ini mereka mulai mengimplementasikan ke dalam karya buatan mereka bagian-bagian komik tadi yang telah dibreak down dan menganalisa masih relevankah warna itu, tulisan itu, gaya gambar itu, bahan itu, dsb. Jika ternyata tidak relevan, maka kemudian dimodifikasi atau diganti dengan apa yang mereka anggap relevan, hingga pada akhirnya jadilah komik yang berkarakter lokal, dan hampir tidak terlihat terinfluence komik Barat. Mungkin itu salah satu mengapa komik Manga bermata lebar, karena karakter orang Jepang yang bermata sipit, dan mata lebar adalah mata yang diidam-idamkan, sebuah teknik marketing yan baik bukan. Namun sampai saat ini saya tidak pernah habis pikir bagaimana seorang Jepang, Fujiko F. Fujio, mendapat ide untuk memproduksi karakter Doraemon, sebuah robot masa depan berbentuk kucing yang mampu mengeluarkan apa saja dari kantongnya. Sebuah karakter imajinatif yang sangat aneh dan lebih anehnya lagi bisa tetap bertahan sampai saat ini. Memang sepertinya kita harus banyak belajar dari negara yang pernah mengaku-ngaku sebagai saudara tua bangsa kita ini. Tabik.