"Tentang benda-benda yang engkau punya dan engkau banggakan. Tentang gaya hidup yang kau kenakan dan bahkan kini kau tuhankan. Tentang kekinian yang selalu saja engkau bicarakan. Tentang status dan posisi tawarmu di penglihatan orang-orang. Tentang nama besar yang engkau sandang dan engkau busungkan. Tentang seberapa pintar dan cemerlangmu di penglihatan orang-orang. Tentang satu, dua, tiga peperangan yang pernah kau menangkan. Kalimat menjatuhkan yang jadi sering engkau ucapkan, kau hujamkan. Jangan harap itu bisa mengesankanku dan menjatuhkanku..." (Jenny-120)

Wednesday, June 19, 2013

Catatan ringan: Tentang sebuah postingan di Kaskus berjudul "Have I Told You Lately That I Love You"

                                                Hanya ilustrasi, mumpung ada karya saya yang agak romantis.

Hari itu Selasa, saya sedang iseng buka Kaskus disela padatnya kerjaan kantor yang tak kunjung habis. Buka Kaskus pada jam kerja, di kantor lagi, terlihat tidak produktif memang, tapi terkadang saya butuh refreshing dengan membaca hal-hal tidak penting di forum lounge portal itu. Sekedar membaca lawakan terbaru komik Mat Kosim atau melihat postingan-postingan menarik seputar misteri Crop Circle yang tak kunjung terpecahkan. Ketika sedang asik membaca-membaci (istilah baru), teman saya, Nola, melintas lalu berhenti sejenak. Ketika melihat saya sedang membuka Kaskus, dia bilang, "kamu harus baca ini!", lalu dia kirim link lewat YM. YM kami memang selalu available ketika bekerja agar gampang tek-tokan antara kreatif dan account ketika ngurusin job. Maklum anak ahensi, miskomunikasi sama dengan lembur malam ini.

Saya agak tidak terlalu menghiraukan perkataan dan kiriman link teman saya itu, karena saya sedang asik membaca kisah di balik lepasnya Timor-Timur dari Indonesia, dengan tokoh-tokoh keren seperti Eurico Guitteres, Xanana Gusmao, dsb. Tapi akhirnya saya buka juga link itu. Sebuah link yang merujuk pada sebuah postingan di Kaskus yang berjudul "Have I Told You Lately That I Love You". Dalam hati saya, "ow-ow, kisah cinta remaja nih". Ada banyak page postingan yang sudah dirangkum dalam page pertama, ceritanya akan cukup panjang saya rasa. Sebenarnya saya tidak begitu suka membaca teenlit, tapi karena tak mau mengecewakan teman, akhirnya saya pun membacanya.

Di awal-awal cerita, penulis memposisikan dirinya dalam kisah itu sebagai orang pertama bernama Nanda, anak kelas 3 SMA, tokoh protagonis tampaknya (selalu nih). Tokoh ini terlihat cukup tangguh dan mandiri dalam menjalani hidup, karena sudah kost di saat masih SMA. Katanya sih (kalau tidak salah) karena orang tuanya kerjanya jauh dari kota, jadi dia memutuskan untuk kost dengan sesekali pulang ke rumah orang tuanya yang ada di tepi pantai.

Drama pun dimulai. Sejak dari awal sekolah Nanda mencintai teman sekolahnya bernama Lisa, pencinta kucing, anak orang kaya sepertinya, karena setiap hari pergi ke sekolah diantar sopir. Nanda terlihat sangat menyukai Lisa karena dia sampai rela datang lebih awal tapi masuk kelas paling akhir, demi menunggu Lisa di gerbang sekolah, melihatnya turun dari mobil sampai akhirnya si pujaan hati masuk ke kelas. Perkembangan cinta Nanda kepada Lisa terbilang lambat, karena sampai kelas 3 saja dia baru sampai tahap menyapa. Tapi Nanda tidak patah arang untuk mendapatkan Lisa, dia selalu berusaha mendekat, apalagi Nanda selalu didukung oleh teman baiknya yang bernama Ari. Sampai suatu saat sapaan Nanda kepada Lisa akhirnya bersambut. Singkat cerita mereka mulai dekat, dari sering ngobrol di kantin, smsan, sampai pergi berdua ke toko buku. Nanda selalu menceritakan perkembangan cintanya dengan Lisa kepada Ari, dan layaknya berperan sebagai Dewa Asmara, Ari selalu memberi saran-saran romantis hingga cenderung agresif demi keberhasilan romansa cinta teman karibnya tersebut. Dan entah berkat bantuan Ari atau tidak, Nanda semakin lengket dengan Lisa. Selamat! Sampai di sini saya mulai agak bosan membaca cerita ini, karena plot dan temanya sepertinya akan biasa saja, walaupun gaya penyampaian cerita dan penjelasan detil kejadian atau settingnya cukup bagus. Sampai akhirnya muncul tokoh baru, cewek pindahan dari Bandung bernama Putri. Si tokoh ini lah yang membuat saya mengikuti cerita ini sampai selesai.

Si Putri ini menurut saya karakter yang cukup menarik. Dia punya hobi menggambar di sketchbook. Katanya sih, dia suka menggambar orang-orang yang dia anggap penting. Dia juga sering menggambar di udara. Hah, maksudnya? Jadi dia cuma menatap kosong ke depan, lalu menggerak-gerakkan tangan di depan wajahnya seperti orang melukis, lucu kan? Pertama masuk kelas dia sudah ditakdirkan duduk di samping Nanda. Hari pertama sekolah saja dia sudah membuat Nanda heboh dengan hilangnya sketcbooknya, dan dia pasang muka memelas dengan mata berkaca-kaca mau nangis, sampai akhirnya Nanda terpaksa bantu mencari. Akhirnya ketemu, hore! Mereka berdua akhirnya sering duduk sebangku dan semakin akrab. Di sinilah  konflik mulai terjadi, Nanda semakin dekat dengan Lisa, namun semakin akrab juga dengan Putri. Kalau kata Nanda, Lisa seperti malam yang sinar bulan dan gemerlap bintangnya selalu membuatnya rindu mendayu-dayu. Sedangkan Putri seperti pagi cerah dengan segala kesegarannya yang selalu membuat Nanda nampak ceria. Nanda sering pulang sekolah bareng Lisa, bahkan Lisa sampai sering pagi-pagi minta dianter sopirnya ke kost Nanda, demi berangkat ke sekolah bareng berboncengan dengan motor butut milik Nanda. Nanda pun terharu. Dengan Putri pun Nanda sering diajak pergi bareng, tapi ke tempat yang agak tak biasa, panti jompo. Aneh kan cewek ini, ngajak ngedate ke panti jompo, tapi itulah kenapa saya suka karakter yang satu ini. Kenapa Putri suka ke panti jompo? Alasannya agak klise, menurut dia panti jompo adalah tempat kumpulan manula yang “dibuang” oleh anak-anaknya. Putri kasihan, itu saja. Di panti jompo itu Putri sudah akrab dengan seorang nenek yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya, yang biasa dia panggil Oma. Dia sering membawakan Oma makanan, bahkan menyuapinya, meskipun Oma sering lupa padanya. Katanya kasihan Oma, sudah 3 kali lebaran tidak dikunjungi keluarganya. Nanda pun kagum dengan Putri. Waduh gimana nih, cewek yang satu bikin terharu, yang satunya lagi bikin kagum, intinya dua-duanya OK lah. Mulai bimbang nih Nanda.

Hari-hari dilalui Empat Sekawan ini, Nanda, Lisa, Putri, Ari, dengan menarik. Mereka sering bepergian bareng, menginap di rumah Nanda, memancing bersama di dermaga, dsb. Kejadian-kejadian klise layaknya FTV pun mulai sering terjadi, seperti Nanda dikeroyok preman gara-gara melindungi Lisa, Nanda yang dikeroyok pacar Putri dan teman-temannya (oia Putri punya pacar yang agak kasar, over-protektif, antagonis pokoknya, tapi akhirnya putus kok), keluarga Nanda yang terlibat hutang, sampai konflik bathin karena ternyata Ari menyukai Putri, dan Putri lebih condong ke Nanda. Di sini sepertinya Nanda menjadi tokoh yang diperebutkan dua wanita, Lisa dan Putri. Maklum lah, penulis sekaligus orang pertama gitu, hahahaha. Sedangkan Ari nampak sebagai pelengkap saja, tokoh yang menunggu Nanda memberi belas kasihan dengan merelakan Putri untuknya. Cinta segi empat atau mungkin trapesium atau bahkan jajar genjang pun telah terjadi. Sampai akhirnya Putri mengalah dengan meninggalkan Nanda, tepat di hari selesai UAN, demi memberi kesempatan Nanda berpikir untuk memilih dia atau Lisa. Putri berkata, “kita akan bertemu 3,5 tahun lagi”, kata yang dipegang oleh Nanda yang ternyata lebih memilih Putri.

Plot cerita yang runtut di masa SMA ini langsung melompat-lompat ketika memasuki masa kuliah. Di sini penulis, yang sekaligus tokoh utama, juga mulai memainkan setting waktu, masa lalu dan masa kini. Singkat cerita, karena rasa kangen gara-gara sudah tak bertemu bertahun-tahun yang sudah terlampau tak tertahan, Nanda mencari Putri dengan segala cara. Sampai akhirnya menemukan account Putri di Friendster. Jaman itu Friendster masih populer lho. Nanda selalu memantau account Putri walaupun jarang apdet status dan friendrequest-nya belum diaccept. Sampai akhirnya Nanda membaca status terbaru Putri yang berkata, “Di Bandara Soekarno-Hatta terminal 1, pesawat pending 4 jam, huft (kira-kira seperti itu)”. Nanda pun langsung cabut, bongkar tabungan, beli tiket pesawat demi bisa masuk bandara, dan langsung menuju bandara. Kesempatan bertemu Putri nih, pikirnya. Akhirnya mereka berdua bertemu, berpelukan, dan ternyata tiket ke Medan yang dibeli asal-asalan oleh Nanda membawanya satu pesawat bersama Putri. Mereka berdua ke Medan, ke rumah Putri, dengan bahagia tentunya. Satu minggu Nanda di rumah Putri, menjalin kasih (cieee) dan berjanji menikah. Sampai akhirnya Nanda kembali ke Jakarta karena harus meneruskan kuliah. Mereka sering saling telepon, kirim sms, sampai akhirnya Nanda mendapat kabar bahwa Putri meninggal karena kecelakaan. Nanda tampak terpukul dan tidak bisa merelakan Putri. Berakhir sedih kayaknya nih cerita. Selang berapa lama akhirnya Nanda bisa move on, dan meneruskan hidupnya. Nanda akhirnya menikah dengan wanita lain, sedangkan Lisa menikah dengan Ari. Beruntung ya Ari, hahahaha. Tamat.

Apa yang menarik dari cerita ini? Di lihat dari tema, plot, alur mungkin biasa saja, sama kayak sinetron. Pacaran segitiga (atau lebih), salah satu meninggal, dan si tokoh utama akhirnya tidak mendapatkan dua-duanya. Biasa kan. Yang menarik menurut saya adalah, cara bercerita penulisnya yang sangat runtut, mampu membangun imajinasi, dan sangat detil. Saya bisa menikmati cerita ini dengan jelas dan gamblang karena diceritakan secara terstruktur mulai dari awal sampai akhir. Dari Nanda mendekati Lisa, bertemu Putri, terlibat konflik dengan Ari, bersekolah sambil bekerja, berjuang untuk bertemu Putri setelah menunggu bertahun-tahun, sampai akhirnya berakhir tragis. Ketika membaca cerita ini saya juga mampu membayangkan bagaimana setting tempatnya, seperti apa kejadian yang terjadi, atau bagaimana rupa visual karakter tiap tokohnya. Misalnya bagaimana suasana kost si Nanda dengan adanya ayunan besi dengan sedikit karat di halamannya, bagaimana karakter si Putri dengan rambut kuncir kuda dan menyisakan sedikit di samping kedua telingannya, bagaimana suasana ketika Nanda makan bekal bersama Lisa di bawah lampu di pom bensin tempatnya bekerja, bagaimana suasana rumah Putri di Bandung, bagaimana suasana rumah Nanda di tepi pantai, dan sebagainya. Bagian-bagian itu diceritakan dengan sangat rapi dan detil. Untuk sekelas penulis postingan di Kaskus, si Nanda ini cukup jago menurut saya. Walapun tema cerita yang diangkatnya biasa saja, namun dia bisa membangun konstruksi kisah yang sangat indah dan membangun imajinasi. Apalagi, katanya nih, cerita ini berdasarkan kisah nyata. Wow, beruntung sekali dia memiliki kisah hidup yang sangat noveliable, perasaan kisah hidup saya sampai saat ini flat saja, datar seperti meja. Dia juga mampu mengingat dengan jelas setiap frase dalam kisah hidupnya itu. Sepertinya memang bakat menulis, walaupun dia mengatakan bahwa dia kuliah jurusan IT. Dia juga tidak lupa menambahkan pesan-pesan moral nan agamis dalam ceritanya tersebut. Lengkap deh untuk dicetak dalam bentuk novel.

Intinya, untuk sekelas postingan di Kaskus cerita ini OK. Lebih bagus dari cerita-cerita horror bersambung yang sering diceritakan asal-asalan. Terlepas cerita ini fiksi atau non-fiksi, saya menganggap penulis sudah berbaik hati untuk menuliskan sebuah cerita yang membuat saya berpikir untuk mulai sekarang, tidak hanya membaca buku-buku cultural studies atau novel Pramoedya Ananta Toer saja, melainkan banyak tulisan-tulisan bagus lainnya yang seharusnya juga saya baca, untuk menambah khasanah berpikir dan berimajinasi tentunya. Tabik.


Bagi yang ingin membaca kisah ini selengkapnya bisa buka di kaskus ya...