"Tentang benda-benda yang engkau punya dan engkau banggakan. Tentang gaya hidup yang kau kenakan dan bahkan kini kau tuhankan. Tentang kekinian yang selalu saja engkau bicarakan. Tentang status dan posisi tawarmu di penglihatan orang-orang. Tentang nama besar yang engkau sandang dan engkau busungkan. Tentang seberapa pintar dan cemerlangmu di penglihatan orang-orang. Tentang satu, dua, tiga peperangan yang pernah kau menangkan. Kalimat menjatuhkan yang jadi sering engkau ucapkan, kau hujamkan. Jangan harap itu bisa mengesankanku dan menjatuhkanku..." (Jenny-120)

Thursday, November 28, 2013

RUMAH GEMBEL
"Reka Ulang Rumah Gembel melalui Seni Rupa"
Oleh: Hermanto Soerjanto, Curator/ Chief Creative Officer Pantarei Inc.

Lewat proyek seni “Rumah Gembel” ini kami mencoba untuk mengangkat sebuah realitas yang sangat akrab dalam keseharian kita, namun sangat jauh dari kesadaran kita. Bahkan sebagian orang malu untuk mengakui bahwa pemukiman kumuh atau “rumah gembel” ini merupakan bagian dari identitas kota yang kita huni. Lewat proyek seni ini kami mengajak untuk jujur terhadap identitas lokal kita.


Ide dari proyek seni ini adalah untuk mereka ulang keberadaan “rumah gembel” ini di ruang publik yang berbeda, di Mal, sebuah ruang publik yang sangat akrab dengan ‘masyarakat menengah-atas’ Jakarta. Objektif dari proyek seni ini adalah: melalui seni rupa, kita dapat merubah kesadaran publik akan keberadaan “rumah gembel.”



“Rumah Gembel” yang dalam realitas keseharian kita dianggap memalukan, simbol dari negara berkembang, melalui campur tangan seni rupa kami harapkan akan dapat diterima dan berinteraksi dengan publik yang konon malu untuk mengakui keberadaan “rumah gembel” ini sebagai bagian dari identitas dirinya.

Dalam proyek seni ini, kami membangun sebuah “rumah gembel” berukuran 200 x 300 x 300cm. Bahan yang digunakan untuk membangun “rumah gembel” ini adalah barang-barang temuan, atau barang-barang loakan. Hal ini untuk mempertahankan feel ke-gembelan dari “rumah gembel” ini. Pada umumnya, dinding “rumah gembel” ini dibuat dengan teknik tambal-menambal dari berbagai macam barang temuan, seperti kardus bekas, triplek bekas, seng bekas, terpal plastik, dan sebagainya.
Dalam proyek “Rumah Gembel” ini, setiap keping dari bagian dinding direspons oleh seorang seniman, sehingga sebagai hasil akhirnya terbentuk sebuah “rumah gembel” yang dindingnya terbuat dari banyak karya-karya seni.


GENERASI MIE GORENG
Potret generasi Indonesia, di era Post-Reformasi.

Kebetulan saya ikut berpartisipasi dalam proyek Rumah Gembel ini, dengan menyumbangkan karya lukisan pada media papan kayu jati yang berjudul "Generasi Mie Goreng".

Karya saya ini mengangkat tema tentang generasi muda Indonesia yang saat ini terlihat agak melenceng dan semakin menjauh dari kodrat mereka sebagai generasi penerus bangsa. Generasi tersebut nampak sedikit menyeleweng dari konsep awal Founding Fathers dalam membangun generasi calon pemimpin masa depan Indonesia, yang diharapkan menjunjung tinggi kearifan lokal dan kepribadian Nusantara. Budaya konsumtif, hedonis, western, dan penuh hura-hura seakan telah mengakar dan menjadi sebuah budaya yang egaliter, mampu diterima dan diterapkan oleh berbagai kalangan di Indonesia baik itu kalangan menengah ke atas atau bahkan kalangan paling bawah, atau yang biasa disebut dengan komunitas gembel. 

Sungguh mengherankan ketika melihat pengemis yang makan di restoran cepat saji waralaba luar negeri atau pemulung yang tengah asik bermain hape canggih berharga jutaan rupiah. Tidak salah memang, karena itu hak mereka dan uang hasil kerja mereka. Masalahnya adalah ketika mereka menjadikan pengemis sebagai profesi dan pekerjaan tetap, serta benda-benda tersier impor dijadikan kebutuhan primer yang menyingkirkan kebutuhan pendidikan atau sandang-pangan-papan. Mereka seakan lebih memilih menggunakan uang mereka untuk kredit sepeda motor ber-cc besar daripada menyekolahkan anak mereka di sekolah yang berkualitas. Kebutuhan konsumsi anak-anak pun dicukupi dengan produk-produk cepat saji yang nilai gizinya jauh dari standar. Permainan-permainan lokal yang kreatif, murah, dan menyehatkan jaman dulu (gobak sodor, congklak, gasing) mulai terisisih diganti gadget berlayar pixel yang berpotensi membuat mata minus serta tubus kurus. Ditambah lagi tontonan televisi yang hanya berisi drama dan hiburan, tanpa pesan moral dan inspirasi positif. Tidak aneh kalau kisah hidup mereka pun seperti drama kolosal yang tragis dan ironis. 

Gadget-gadget canggih kini menjadi benda-benda yang lekat dengan mereka, entah itu anak-anak gembel ataupun anak-anak "the have", bukan lagi buku LKS ataupun sempoa untuk berhitung. Mereka lebih memilih membeli mainan daripada menciptakannya. Para orang tua Indonesia sepertinya tidak mengkonsep anak-anak mereka untuk menjadi seorang pemimpin ataupun enterpreneur sejati, tetapi lebih sebagai konsumen. Budaya generasi muda sekarang sama dan seragam, entah itu kalangan bawah, menengah, ataupun atas. Sama-sama beli, beli, dan beli. Pemerintah pun nampak tak bisa berkutik menghadapi agresi budaya dari Barat. Mereka terlihat sangat panik ketika dollar naik atau diterapkannya embargo ekonomi oleh Amrik. Kita benar-benar menjadi bangsa yang tidak bisa mandiri, bergantung pada barat, entah itu dari segi ekonomi, politik, ataupun budaya. Tidak ada pendidikan dini yang panjang dan terarah, yang pada akhirnya bisa mencetak generasi mumpuni untuk membangkitkan kekuatan dalam negeri. Yang ada adalah pendidikan yang kurikulumnya berubah-ubah dan berorientasi pada hasil akhir berupa UAN. Keberhasilan kini tidak didapatkan melalui proses yang panjang, tapi sebisa mungkin secara cepat dan praktis. KKN dan suap akhirnya menjadi budaya yang merajalela dan turun-temurun. Mungkin karena mereka semua terlalu banyak mengkonsumsi mie instan, sehingga pikiran mereka juga semakin instan. Tapi bagaimanapun juga inilah Indonesia, kita harus tetap mecintainya sebagai tanah air dan bumi pertiwi. Tugas kita bersamalah untuk menjadikannya lebih baik, meluruskan yang bengkok dan membersihkan yang kotor. Semoga.


*Karya Rumah Gembel ini dipamerkan dan bisa disaksikan di Pondok Indah Mal mulai 28 November 2013.

Friday, August 30, 2013

Drawing akhir Agustus.

Sambil nungguin kerjaan datang dari traffic, itung-itung nostalgia dengan yang namanya pensil mekanik dan penghapus karet. Terlalu sering dengan pen wacom dan layar imac juga kayaknya gak baik. Digital-manual, keduanya harus berjalan bergandengan tangan dan bersahabat bagai kepompong. Selamat menggambar :)




Wednesday, June 19, 2013

Catatan ringan: Tentang sebuah postingan di Kaskus berjudul "Have I Told You Lately That I Love You"

                                                Hanya ilustrasi, mumpung ada karya saya yang agak romantis.

Hari itu Selasa, saya sedang iseng buka Kaskus disela padatnya kerjaan kantor yang tak kunjung habis. Buka Kaskus pada jam kerja, di kantor lagi, terlihat tidak produktif memang, tapi terkadang saya butuh refreshing dengan membaca hal-hal tidak penting di forum lounge portal itu. Sekedar membaca lawakan terbaru komik Mat Kosim atau melihat postingan-postingan menarik seputar misteri Crop Circle yang tak kunjung terpecahkan. Ketika sedang asik membaca-membaci (istilah baru), teman saya, Nola, melintas lalu berhenti sejenak. Ketika melihat saya sedang membuka Kaskus, dia bilang, "kamu harus baca ini!", lalu dia kirim link lewat YM. YM kami memang selalu available ketika bekerja agar gampang tek-tokan antara kreatif dan account ketika ngurusin job. Maklum anak ahensi, miskomunikasi sama dengan lembur malam ini.

Saya agak tidak terlalu menghiraukan perkataan dan kiriman link teman saya itu, karena saya sedang asik membaca kisah di balik lepasnya Timor-Timur dari Indonesia, dengan tokoh-tokoh keren seperti Eurico Guitteres, Xanana Gusmao, dsb. Tapi akhirnya saya buka juga link itu. Sebuah link yang merujuk pada sebuah postingan di Kaskus yang berjudul "Have I Told You Lately That I Love You". Dalam hati saya, "ow-ow, kisah cinta remaja nih". Ada banyak page postingan yang sudah dirangkum dalam page pertama, ceritanya akan cukup panjang saya rasa. Sebenarnya saya tidak begitu suka membaca teenlit, tapi karena tak mau mengecewakan teman, akhirnya saya pun membacanya.

Di awal-awal cerita, penulis memposisikan dirinya dalam kisah itu sebagai orang pertama bernama Nanda, anak kelas 3 SMA, tokoh protagonis tampaknya (selalu nih). Tokoh ini terlihat cukup tangguh dan mandiri dalam menjalani hidup, karena sudah kost di saat masih SMA. Katanya sih (kalau tidak salah) karena orang tuanya kerjanya jauh dari kota, jadi dia memutuskan untuk kost dengan sesekali pulang ke rumah orang tuanya yang ada di tepi pantai.

Drama pun dimulai. Sejak dari awal sekolah Nanda mencintai teman sekolahnya bernama Lisa, pencinta kucing, anak orang kaya sepertinya, karena setiap hari pergi ke sekolah diantar sopir. Nanda terlihat sangat menyukai Lisa karena dia sampai rela datang lebih awal tapi masuk kelas paling akhir, demi menunggu Lisa di gerbang sekolah, melihatnya turun dari mobil sampai akhirnya si pujaan hati masuk ke kelas. Perkembangan cinta Nanda kepada Lisa terbilang lambat, karena sampai kelas 3 saja dia baru sampai tahap menyapa. Tapi Nanda tidak patah arang untuk mendapatkan Lisa, dia selalu berusaha mendekat, apalagi Nanda selalu didukung oleh teman baiknya yang bernama Ari. Sampai suatu saat sapaan Nanda kepada Lisa akhirnya bersambut. Singkat cerita mereka mulai dekat, dari sering ngobrol di kantin, smsan, sampai pergi berdua ke toko buku. Nanda selalu menceritakan perkembangan cintanya dengan Lisa kepada Ari, dan layaknya berperan sebagai Dewa Asmara, Ari selalu memberi saran-saran romantis hingga cenderung agresif demi keberhasilan romansa cinta teman karibnya tersebut. Dan entah berkat bantuan Ari atau tidak, Nanda semakin lengket dengan Lisa. Selamat! Sampai di sini saya mulai agak bosan membaca cerita ini, karena plot dan temanya sepertinya akan biasa saja, walaupun gaya penyampaian cerita dan penjelasan detil kejadian atau settingnya cukup bagus. Sampai akhirnya muncul tokoh baru, cewek pindahan dari Bandung bernama Putri. Si tokoh ini lah yang membuat saya mengikuti cerita ini sampai selesai.

Si Putri ini menurut saya karakter yang cukup menarik. Dia punya hobi menggambar di sketchbook. Katanya sih, dia suka menggambar orang-orang yang dia anggap penting. Dia juga sering menggambar di udara. Hah, maksudnya? Jadi dia cuma menatap kosong ke depan, lalu menggerak-gerakkan tangan di depan wajahnya seperti orang melukis, lucu kan? Pertama masuk kelas dia sudah ditakdirkan duduk di samping Nanda. Hari pertama sekolah saja dia sudah membuat Nanda heboh dengan hilangnya sketcbooknya, dan dia pasang muka memelas dengan mata berkaca-kaca mau nangis, sampai akhirnya Nanda terpaksa bantu mencari. Akhirnya ketemu, hore! Mereka berdua akhirnya sering duduk sebangku dan semakin akrab. Di sinilah  konflik mulai terjadi, Nanda semakin dekat dengan Lisa, namun semakin akrab juga dengan Putri. Kalau kata Nanda, Lisa seperti malam yang sinar bulan dan gemerlap bintangnya selalu membuatnya rindu mendayu-dayu. Sedangkan Putri seperti pagi cerah dengan segala kesegarannya yang selalu membuat Nanda nampak ceria. Nanda sering pulang sekolah bareng Lisa, bahkan Lisa sampai sering pagi-pagi minta dianter sopirnya ke kost Nanda, demi berangkat ke sekolah bareng berboncengan dengan motor butut milik Nanda. Nanda pun terharu. Dengan Putri pun Nanda sering diajak pergi bareng, tapi ke tempat yang agak tak biasa, panti jompo. Aneh kan cewek ini, ngajak ngedate ke panti jompo, tapi itulah kenapa saya suka karakter yang satu ini. Kenapa Putri suka ke panti jompo? Alasannya agak klise, menurut dia panti jompo adalah tempat kumpulan manula yang “dibuang” oleh anak-anaknya. Putri kasihan, itu saja. Di panti jompo itu Putri sudah akrab dengan seorang nenek yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya, yang biasa dia panggil Oma. Dia sering membawakan Oma makanan, bahkan menyuapinya, meskipun Oma sering lupa padanya. Katanya kasihan Oma, sudah 3 kali lebaran tidak dikunjungi keluarganya. Nanda pun kagum dengan Putri. Waduh gimana nih, cewek yang satu bikin terharu, yang satunya lagi bikin kagum, intinya dua-duanya OK lah. Mulai bimbang nih Nanda.

Hari-hari dilalui Empat Sekawan ini, Nanda, Lisa, Putri, Ari, dengan menarik. Mereka sering bepergian bareng, menginap di rumah Nanda, memancing bersama di dermaga, dsb. Kejadian-kejadian klise layaknya FTV pun mulai sering terjadi, seperti Nanda dikeroyok preman gara-gara melindungi Lisa, Nanda yang dikeroyok pacar Putri dan teman-temannya (oia Putri punya pacar yang agak kasar, over-protektif, antagonis pokoknya, tapi akhirnya putus kok), keluarga Nanda yang terlibat hutang, sampai konflik bathin karena ternyata Ari menyukai Putri, dan Putri lebih condong ke Nanda. Di sini sepertinya Nanda menjadi tokoh yang diperebutkan dua wanita, Lisa dan Putri. Maklum lah, penulis sekaligus orang pertama gitu, hahahaha. Sedangkan Ari nampak sebagai pelengkap saja, tokoh yang menunggu Nanda memberi belas kasihan dengan merelakan Putri untuknya. Cinta segi empat atau mungkin trapesium atau bahkan jajar genjang pun telah terjadi. Sampai akhirnya Putri mengalah dengan meninggalkan Nanda, tepat di hari selesai UAN, demi memberi kesempatan Nanda berpikir untuk memilih dia atau Lisa. Putri berkata, “kita akan bertemu 3,5 tahun lagi”, kata yang dipegang oleh Nanda yang ternyata lebih memilih Putri.

Plot cerita yang runtut di masa SMA ini langsung melompat-lompat ketika memasuki masa kuliah. Di sini penulis, yang sekaligus tokoh utama, juga mulai memainkan setting waktu, masa lalu dan masa kini. Singkat cerita, karena rasa kangen gara-gara sudah tak bertemu bertahun-tahun yang sudah terlampau tak tertahan, Nanda mencari Putri dengan segala cara. Sampai akhirnya menemukan account Putri di Friendster. Jaman itu Friendster masih populer lho. Nanda selalu memantau account Putri walaupun jarang apdet status dan friendrequest-nya belum diaccept. Sampai akhirnya Nanda membaca status terbaru Putri yang berkata, “Di Bandara Soekarno-Hatta terminal 1, pesawat pending 4 jam, huft (kira-kira seperti itu)”. Nanda pun langsung cabut, bongkar tabungan, beli tiket pesawat demi bisa masuk bandara, dan langsung menuju bandara. Kesempatan bertemu Putri nih, pikirnya. Akhirnya mereka berdua bertemu, berpelukan, dan ternyata tiket ke Medan yang dibeli asal-asalan oleh Nanda membawanya satu pesawat bersama Putri. Mereka berdua ke Medan, ke rumah Putri, dengan bahagia tentunya. Satu minggu Nanda di rumah Putri, menjalin kasih (cieee) dan berjanji menikah. Sampai akhirnya Nanda kembali ke Jakarta karena harus meneruskan kuliah. Mereka sering saling telepon, kirim sms, sampai akhirnya Nanda mendapat kabar bahwa Putri meninggal karena kecelakaan. Nanda tampak terpukul dan tidak bisa merelakan Putri. Berakhir sedih kayaknya nih cerita. Selang berapa lama akhirnya Nanda bisa move on, dan meneruskan hidupnya. Nanda akhirnya menikah dengan wanita lain, sedangkan Lisa menikah dengan Ari. Beruntung ya Ari, hahahaha. Tamat.

Apa yang menarik dari cerita ini? Di lihat dari tema, plot, alur mungkin biasa saja, sama kayak sinetron. Pacaran segitiga (atau lebih), salah satu meninggal, dan si tokoh utama akhirnya tidak mendapatkan dua-duanya. Biasa kan. Yang menarik menurut saya adalah, cara bercerita penulisnya yang sangat runtut, mampu membangun imajinasi, dan sangat detil. Saya bisa menikmati cerita ini dengan jelas dan gamblang karena diceritakan secara terstruktur mulai dari awal sampai akhir. Dari Nanda mendekati Lisa, bertemu Putri, terlibat konflik dengan Ari, bersekolah sambil bekerja, berjuang untuk bertemu Putri setelah menunggu bertahun-tahun, sampai akhirnya berakhir tragis. Ketika membaca cerita ini saya juga mampu membayangkan bagaimana setting tempatnya, seperti apa kejadian yang terjadi, atau bagaimana rupa visual karakter tiap tokohnya. Misalnya bagaimana suasana kost si Nanda dengan adanya ayunan besi dengan sedikit karat di halamannya, bagaimana karakter si Putri dengan rambut kuncir kuda dan menyisakan sedikit di samping kedua telingannya, bagaimana suasana ketika Nanda makan bekal bersama Lisa di bawah lampu di pom bensin tempatnya bekerja, bagaimana suasana rumah Putri di Bandung, bagaimana suasana rumah Nanda di tepi pantai, dan sebagainya. Bagian-bagian itu diceritakan dengan sangat rapi dan detil. Untuk sekelas penulis postingan di Kaskus, si Nanda ini cukup jago menurut saya. Walapun tema cerita yang diangkatnya biasa saja, namun dia bisa membangun konstruksi kisah yang sangat indah dan membangun imajinasi. Apalagi, katanya nih, cerita ini berdasarkan kisah nyata. Wow, beruntung sekali dia memiliki kisah hidup yang sangat noveliable, perasaan kisah hidup saya sampai saat ini flat saja, datar seperti meja. Dia juga mampu mengingat dengan jelas setiap frase dalam kisah hidupnya itu. Sepertinya memang bakat menulis, walaupun dia mengatakan bahwa dia kuliah jurusan IT. Dia juga tidak lupa menambahkan pesan-pesan moral nan agamis dalam ceritanya tersebut. Lengkap deh untuk dicetak dalam bentuk novel.

Intinya, untuk sekelas postingan di Kaskus cerita ini OK. Lebih bagus dari cerita-cerita horror bersambung yang sering diceritakan asal-asalan. Terlepas cerita ini fiksi atau non-fiksi, saya menganggap penulis sudah berbaik hati untuk menuliskan sebuah cerita yang membuat saya berpikir untuk mulai sekarang, tidak hanya membaca buku-buku cultural studies atau novel Pramoedya Ananta Toer saja, melainkan banyak tulisan-tulisan bagus lainnya yang seharusnya juga saya baca, untuk menambah khasanah berpikir dan berimajinasi tentunya. Tabik.


Bagi yang ingin membaca kisah ini selengkapnya bisa buka di kaskus ya...

Thursday, May 2, 2013

Resensi Pinasthika Creative Festival 2011: Iklan Syariah Tak Kalah Kreatif


Pinasthika Creative Festival 2011 (Pinasthika ke-12) telah diadakan di kota Yogyakarta pada tanggal 28-29 Oktober yang lalu. Pagelaran kreatif yang berlangsung dua hari ini dapat dikatakan berjalan dengan cukup sukses, meskipun dari tim juri ada yang mengatakan bahwa kualitas karya yang masuk pada tahun ini mengalami sedikit penurunan. Meskipun demikian harus diakui bahwa industri kreatif nasional Indonesia semakin hari semakin berkembang dan bergerak ke arah kamajuan yang cukup signifikan, khususnya dari segi kuantitas. Industri kreatif dan agensi lokal mulai banyak bermunculan meramaikan jagat kreatif Indonesia. Hal ini tak ayal ikut menciptakan persaingan kreatifitas yang semakin ketat di dalamnya. Persaingan kreatifitas tersebut diharapkan dapat semakin meningkatkan kualitas karya industri kreatif Indonesia, yang pada akhirnya dapat menyejajarkan industri kreatif Indonesia dengan negara-negara lain, khususnya di regional asia tenggara, atau bahkan melampauinya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara Pinasthika Creative Festival tahun ini juga diisi dengan seminar kreatif yang menampilkan jagoan-jagoan kreatif sebagai pembicara baik dari lokal maupun asing. Tema acara yang berbunyi ‘Magical Idea’ ini tampak terimplementasikan pada seminar-seminar yang membahas hal–hal magis periklanan mulai dari ‘marketing magical ideas’ hingga‘how to create magical brands’. Pembicara seperti Masako Okamura (Creative Director Dentsu Inc.), Birger Linke (Creative Director Leo Bunnet Shanghai), Graham Kelly (GKIM Pte Ltd), hingga Sakti Makki (President Director Makki Makki) tampak mampu menarik perhatianaudience dengan sharing dan tanya jawab yang cukup hangat serta penuh semangat. Acara seminar ini juga memperlihatkan bagaimana antusiasme insan kreatif Indonesia dalam upaya meningkatkan kemampuan kreatif, problem solving, hinggamaking the great idea guna menembus pasar kreatif regional hingga internasional.

Syafa’at Marcomm sebagai bagian dari PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) Daerah Istimewa Yogyakarta juga turut serta dalam pagelaran kreatif bertajuk Pinasthika Creative Festival 2011 ini. Mulai seminar hari pertama hingga penutupan berupaawarding night selalu diikuti oleh tim Syafa’at Marcomm guna manambah khazanah kreatifitas periklanan serta menjalin silaturahmi dengan agensi periklanan Indonesia yang lain. Selain itu, beberapa karya Syafa’at Marcomm juga dimasukkan ke dalam perlombaan kreatif dalam event ini dan hasilnya pun sangat membanggakan.  Syafa’at Marcomm mendapatkan award berupa tiga gold meliputi Gold  TVC Super Gizi Qurban, Gold Medal – Omega Nusantara Corp ID dan Penghargaan Khusus Best Entry Bawana pilihan jury), satu silver, tiga bronze dan empat penghargaan finalis. Karya yang mendapatkan award tersebut meliputi karya kreatif periklanan antara lain berupa TVC, print ad, graphic design, dan lain sebagainya.

Iklan Super Gizi Qurban versi Beatbox - Syafa'at Marcomm Yogyakarta

Seperti diketahui, awarding dalam event Pinasthika tidak berdasarkan pada peringkat rangking terbaik, seperti misalnya perangkingan dalam sekolah yang selalu memiliki peringkat satu, dua, dan seterusnya. Penilaian dalam event ini menggunakan perolehan poin yang harus melampui ambang batas kreatif dari tim juri agar bisa masuk dalam karya finalis. Karya finalis ini nantinya akan disaring lagi guna mendapatkan juaranya, jika memang ada yang layak menjadi juara. Artinya sebuah kategori dalam lomba kreatif ini dapat tidak memiliki satupun finalis atau pemenang, baik gold, silver, atau bronze, jika tim juri menganggap memang tidak ada yang layak untuk mendapatkannya. Hal yang sangat membanggakan adalah bahwa sebagai agensi marketing komunikasi berbasis syariah, Syafa’at Marcomm menjadi satu-satunya agensi nasional yang mampu mendapatkan medali emas dalam iklan kategori bawana. Kategori bawana adalah kategori lomba iklan yang melibatkan seluruh agensi periklanan Indonesia termasuk dari DKI Jakarta. Selain kategori bawana masih ada kategori baskara, yaitu perlombaan iklan bagi agensi seluruh Indonesia kecuali dari DKI Jakarta, serta kategori graphic design dari seluruh Indonesia. Penghargaan khusus didapat Syafa’at Marcomm, “TVC “Supergizi Qurban” selain sebagai satu-satunya entry yang mendapatkan Gold di Bawana juga mendapatkan Best Entry Bawana pilihan juri.

Iklan yang syar’i tidak berarti harus kehilangan sisi kreatifitas. Justru karena banyak hambatan itulah muncul tantangan untuk mencipta iklan yang selain mampu menjual, juga kreatif, dan tentu saja… tetap syar’i.

Artikel ini juga diposting di http://syafaat.com/ dengan judul "Best Entry Bawana, Gold TVC Super Gizi Qurban"

Monday, April 22, 2013

Sejarah Thailand hanya seharga Rp 6500.


Ini adalah gambar saya yang saya ikut lombakan di sayembara desain kaos dalam rangka Outing 2013 di kantor saya. Tapi sayang kalah, hehehe. "Nggak apa-apa Bro, buat portofolio", kata temen saya memberikan harapan semu. FYI Beberapa waktu yang lalu, saya bersama teman-teman satu kantor pergi outing ke Bangkok, Thailand. Ritual tahunan ini menjadi cukup menarik karena kita akan mengunjungi negara yang katanya menjadi trend setter dunia periklanan se-Asia Tenggara. Banyak kegiatan yang kita lakukan di sana, mulai dari berwisata ke Wat Arun, menyusuri sungai Chao Phraya, mengunjungi Sleeping Buddha, jalan-jalan ke Bangkok Art Centre, belanja oleh-oleh kaos di pasar yang saya lupa namanya, dsb. Sepulang dari sana yang tentunya dengan sejuta cerita, kami disuruh oleh pihak kantor untuk membuat artikel perihal kegiatan outing kita di Bangkok. Artikel itu bisa berbicara tentang apa saja dan nantinya akan ditampilkan di website kantor. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya saya memutuskan membuat artikel tentang sejarah Bangkok yang diintip dari sebuah lapak di trotoar jalan, yang sempat terekam mata dan kamera saya ketika jalan-jalan.

Pertama kali mendengar sejarah Thailand, saya langsung teringat dengan film Yamada: The Samurai of Ayothaya, sebuah film epik bersetting kerajaan Thailand pada jaman dulu. Dalam film tersebut banyak ditampilkan adegan beladiri kuno Thailand dengan gaya berdandan pendekarnya yang sedikit progressif, badan bertato dengan rambut gaya mohawk dan kumis panjang, cukup modis untuk ukuran fesyen jaman itu. 

Tapi di sini saya tidak akan ngomong tentang film, melainkan tentang sebuah lapak jualan di trotoar jalanan kota Bangkok yang menggelar dagangan berupa foto-foto seputar Thailand pada jaman dulu. Uniknya, foto-foto tersebut dijual dengan harga yang cukup murah, hanya THB 20 atau setara kurang lebih 6500 rupiah untuk foto seukuran A4. Foto-foto bernuansa sephia tersebut hanya terbungkus plastik dan disebar rapi pada sebuah alas di trotoar jalan, hampir mirip jualan hp bekas di sekitar Stasiun Senen. Mungkin kita juga sering lihat di Indonesia foto-foto tentang negeri kita jaman dulu, tapi ada yang berbeda dengan foto-foto yang dijual di trotoar jalanan kota Bangkok ini.



Yang membedakan adalah foto-foto jadul Thailand ini hampir tidak ada yang menampilkan adegan-adegan seputar kerja paksa, perang gerilya, suasana bangunan bergaya Eropa, dikotomi nederlander-inlander (majikan bule dengan gundik pribumi), atau adegan-adegan lain yang biasa kita temui di foto-foto Indonesia jaman dulu. Yang ditampilkan hanya seputar suasana kota/kerajaan tempo dulu, alat transportasi pada masa itu, potret biksu, potret keluarga kerajaan, perayaan-perayaan hari besar, dan semacamnya. Hal inilah yang mungkin membuat harga foto-foto kuno ini tidak terlalu mahal. Tidak adanya kisah miris seputar kerja rodi dan tanam paksa, kisah heroik perjuangan merebut kemerdekaan, dan momen-momen imajinatif lain seperti yang terjadi di Indonesia, membuat foto-foto tersebut hanya memiliki sedikit makna sejarah dan tidak mampu bicara sebanyak foto-foto Indonesia jaman dulu. Mungkin inilah kekurangan negeri yang tak pernah terjajah bangsa Eropa, dan kita walaupun dulu pernah terjajah 3,5 abad patut berbangga, karena kita punya sejuta kisah patriotis yang tidak pernah habis untuk diceritakan kepada anak cucu kita. Damn, I love Indonesia! 

*Sebagian artikel ini juga dimuat di http://www.pantarei-ad.com/

Saturday, April 20, 2013

Local Heroes Komik Indonesia


Sebenarnya ini gambar lama, tugas kuliah, tapi entah mengapa saya ingin mempostingnya. Mungkin ada hubungannya dengan kearifan lokal yang sedang digalakkan, atau mungkin saya sayang saja kalo sampai gambar ini hilang dalam harddisk komputer. Gambar ini adalah salah satu bukti bahwa Indonesia punya komik, walaupun sebagian mirip-mirip dengan komik Barat, maklum karena terlalu terinfluence mungkin. Tapi bagimanapun juga inilah karya pribumi yang patut kita lestarikan dan kita teruskan nafas hidupnya.

Saya jadi teringat dengan apa yang dikatakan Creative Director saya di kantor, perihal Jepang, dalam hal ini yang saya bahas adalah komik Manga-nya. FYI Creative Director saya (selanjutnya ditulis CD), baru saja pulang dari Jepang, dan di sana beliau sempat berkunjung ke salah satu pameran desain. Setelah kembali ke Indonesia diadakanlah creative sharing di kantor perihal pameran tersebut, hingga pada akhirnya obrolan kita sampai pada komik Jepang, Manga.

Menurut CD saya, komik Jepang yang sekarang sebegitu hebatnya pada awalnya juga terinspirasi dari komik Barat sama seperti Indonesia. Bedanya adalah Jepang kemudian memproduksi komik yang mempunyai karakter sendiri dan berbeda dengan komik Barat, walaupun mungkin tidak lebih bagus, sedangkan Indonesia plek-njiplek mengadopsinya, hanya menerjemahkan nama dan sedikit memodifikasi kostum hingga jadilah Laba-laba Merah, Gundala, Godham, dkk. Proses ini berkaitan dengan bagaimana cara melihat dan mereproduksi dari masing-masing influencer.
Seperti yang kita ketahui dalam teori intertekstualitas, sebuah teks (verbal/visual) yang muncul tidak akan pernah lepas dari teks terdahulunya, begitupun juga komik. Komik Jepang tidak akan muncul tanpa adanya komik Barat, dan komik Barat mungkin tidak akan muncul tanpa adanya relief Candi Borobudur atau gambar purba di Goa Maros. Yang membedakan adalah bagaimana cara kita melihat dan bagaimana cara kita mereproduksi teks terdahulu menjadi teks hasil buah karya kita saat ini. Dalam fase yang pertama yaitu 'fase melihat', Jepang terbiasa melihat suatu hal dengan membreak down dan menganalisa satu persatu bagian dari apa yang mereka lihat. Misalnya mereka melihat sebuah komik, maka mereka akan memisahkan satu persatu bagian dari komik tersebut, mulai dari font, gaya gambar, elemen grafis, warna, bahan, dsb, untuk memahami mengapa komik tersebut memakai warna itu, memakai font itu, memakai bahan itu, gaya gambar itu, dst.

Setelah mereka mencari tahu alasan hingga issue-issue yang ada di belakangnya barulah mereka menuju fase kedua, 'fase reproduksi'. Pada fase ini mereka mulai mengimplementasikan ke dalam karya buatan mereka bagian-bagian komik tadi yang telah dibreak down dan menganalisa masih relevankah warna itu, tulisan itu, gaya gambar itu, bahan itu, dsb. Jika ternyata tidak relevan, maka kemudian dimodifikasi atau diganti dengan apa yang mereka anggap relevan, hingga pada akhirnya jadilah komik yang berkarakter lokal, dan hampir tidak terlihat terinfluence komik Barat. Mungkin itu salah satu mengapa komik Manga bermata lebar, karena karakter orang Jepang yang bermata sipit, dan mata lebar adalah mata yang diidam-idamkan, sebuah teknik marketing yan baik bukan. Namun sampai saat ini saya tidak pernah habis pikir bagaimana seorang Jepang, Fujiko F. Fujio, mendapat ide untuk memproduksi karakter Doraemon, sebuah robot masa depan berbentuk kucing yang mampu mengeluarkan apa saja dari kantongnya. Sebuah karakter imajinatif yang sangat aneh dan lebih anehnya lagi bisa tetap bertahan sampai saat ini. Memang sepertinya kita harus banyak belajar dari negara yang pernah mengaku-ngaku sebagai saudara tua bangsa kita ini. Tabik.



Saturday, August 29, 2009

Ajaib: Kampus Kita Berubah menjadi Pabrik

Tampaknya sekarang mulai susah membedakan sebuah institusi pendidikan (dalam hal ini kampus) dengan perseroan terbatas atau pabrik. Bedanya mungkin jika pabrik berisi buruh dan pekerja, kampus berisi mahasiswa. Jika pabrik memberi upah kepada buruh dan pekerja, kampus justru menarik dana dari para mahasiswanya. Disahkannya Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) memang memaksa institusi pendidikan mencari dana operasionalnya secara mandiri demi menghidupi penghidupannya sendiri (menurut yang buat merupakan bentuk otonomi kampus). Institusi pendidikan diperbolehkan membentuk badan usaha yang bertujuan mencari laba guna menutupi biaya operasionalnya tersebut. Inilah yang menyebabkan tidak adanya perbedaan kampus dengan pabrik. Otonomi yag diberikan pemerintah kepada kampus dalam hal pendanaan ini terkesan latah dan kebablasan.

Berbagai alibi dipakai pemerintah dan parlemen untuk membela diri dan ngeles dari protes-protes yang merebak di masyarakat. Mulai dengan menyatakan bahwa UU BHP sebagai bentuk otonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, UU BHP menjamin biaya pendididkan yang dikeluarkan mahasiswa tidak akan lebih dari 1/3 biaya operasional, UU BHP menjamin secara khusus warga negara Indonesia yang tidak mampu secara ekonomi tapi berpotensi secara akademik melalui pemberian beasiswa 20 persen, dan lain sebagainya. Tapi lepas dari semua dalih-dalih tersebut tetap saja intinya sama, pemerintah melepas tanggung jawabnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang telah termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Otonomi kebablasan yang diberikan membuka jalan institusi pendidikan menuju ke ranah kapitalisme dan liberalisme.

Apapun alasan pemerintah dan parlemen mengesahkan UU BHP ujung-ujungnya sama saja, biaya pendidikan semakin mahal. Dalam pasal mengenai pendanaan misalnya, disitu dijelaskan bahwa biaya pendidikan BHP (berbentuk BHPP, BHPPD dan sebagainya) ditanggung pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Dengan jelas disebutkan bahwa masyarakat diikutkan dalam pendanaan pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kemana alokasi dana 20 persen APBN yang katanya untuk pendidikan? Kemana kewajiban pemerintah yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa? Kemudian dijelaskan pula pada pasal 34 yang menyatakan bahwa pemerintah hanya menanggung 2/3 biaya operasional pendidikan BHP, 1/3-nya ditanggung masyarakat (mahasiswa). Iya kalau misalnya biaya operasional pendidikannya cuma 100 ribu, 1/3-nya cuma sekitar 30an ribu, kalau misalnya biaya operasionalnya mencapai 1 milyar? Berapa 1/3-nya yang harus ditanggung mahasiswa? Yang aneh lagi adalah apa yang tercantum pada pasal 35 yang menyebutkan bahwa BHP dapat mendirikan badan usaha berbadan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan untuk memenuhi pendanaan pendidikan. Kampus benar-benar telah dikomersilkan dan hendak dirubah menjadi pabrik. Orientasi institusi pendidikan kini tidak lagi untuk menyelenggarakan pendidikan berkualitas dan membawa masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang cerdas, bermartabat, dan berdaya saing tinggi, melainkan untuk mencari laba atau keuntungan sebesar-besarnya.

Dampak buruk dari adanya UU BHP ini jelas yang merasakan adalah masyarakat dan mahasiswa. Birokrasi kampus yang terhormat mana mungkin dirugikan. Proses komersialisasi pendidikan memang benar-benar membawa dampak semakin mahalnya biaya pendidikan yang harus ditanggung mahasiswa. Hal ini terlihat dari diwajibkannya mahasiswa membayar sumbangan-sumbangan yang beraneka ragam jenis dan namanya. Lucunya sumbangan-sumbangan disini (misalnya SPMA) diberi batas minimal, yang berkisar di atas satu juta rupiah. Aneh, padahal biasanya kalau sumbangan itu, pembangunan masjid misalnya, sifatnya sukarela, semampunya, dan seikhlasnya. Selain adanya berbagai sumbangan yang harus dibayar mahasiswa, dampak komersialisasi pendidikan juga terasa dengan mulai diterapkannya sistem pembayaran Satuan Kredit Semester (SKS). Mahasiswa wajib membayar biaya SKS untuk setiap mata kuliah yang ditempuhnya sesuai dengan bobot SKS dari mata kuliah yang diambil. Semakin besar bobot SKS, semakin mahal biaya yang dibayarkan. Padahal pada implementasinya besarnya bobot SKS tidak benar-benar berpengaruh pada proses belajar dan mengajar. Meskipun bobotnya 6 SKS tetap saja proses transfer of knowledge-nya cuma setengah jam, sama dengan yang 2 SKS.

Selain semakin mahalnya biaya pendidikan dampak lain dari komersialisasi pendidikan melalui penerapan UU BHP adalah semakin getolnya kampus mencari mahasiswa sebanyak-banyaknya. Trik yang diambil adalah dengan dibukannya kelas-kelas tambahan untuk program studi yang sedang laku dan menjadi primadona (misalnya program studi Desain Komunikasi Visual). Dengan adanya kelas tambahan (non-reguler), yang tentu saja biayanya lebih mahal (hampir dua kali lipat) dari program regular, pihak birokrat kampus berharap mampu menampung mahasiswa yang lebih banyak dan tentu saja menyebabkan uang yang mengalir ke kampus semakin berlimpah. Mahasiswa non-reguler dijadikan “pohon uang” oleh pihak birokrat kampus. Tapi apa dampak dari semakin banyaknya mahasiswa (hingga 3 kelas) terhadap proses belajar dan mengajar? Proses belajar dan mengajar menjadi tidak efektif dan kualitasnya menurun. Dosen menjadi terkesan malas mengajar, solidaritas antar mahasiswa menjadi berkurang (karena adanya kecenderungan perbedaan strata dari mahasiswa regular dan non-reguler).

Yang paling anyar adalah adanya program kewirausahawan yang sedikit-demi sedikit akan membawa sebuah institusi kampus yang tadinya berupa kampus pendidikan menjadi sebuah kampus enterpreneurship. Disini jelas terlihat, kampus tidak lagi berorientasi pada tujuan pendidikan yang sejatinya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan bibit manusia Indonesia yang unggul, melainkan untuk mencari uang. Kampus memberikan modal kepada mahasiswa untuk mendirikan sebuah usaha yang nantinya diharapkan akan mendapatkan keuntungan. Tugas seorang mahasiswa tidak lagi untuk menuntut ilmu demi menjadi generasi penerus bangsa yang mumpuni dan berdaya saing tinggi, melainkan untuk menjadi seorang pekerja, buruh, atau kuli. Kampus sudah benar-benar menjadi sebuah pabrik.

Kalau kenyataannya seperti itu, sudah benarkah diterapkannya UU BHP pada institusi pendidikan di Indonesia? UU BHP yang katanya akan semakin meningkatkan kualitas pendidikan dan menjadikan biaya pendidikan semakin murah hanya omong kosong belaka. Tetap saja hanya orang-orang kaya dan berduit yang mampu mengecap pendidikan hingga jenjang yang tinggi. Semakin banyak rakyat miskin yang tidak akan bisa bersekolah jika pendidikan di Indonesia dikomersilkan. Dengan adanya kapitalisasi dan liberalisasi di bidang pendidikan, institusi pendidikan tidak lagi berorientasi untuk meyelenggarakan pendidikan yang murah dan berkualitas bagi rakyat, melainkan untuk mencari uang dan laba sebanyak-banyaknya. Mana peran pemerintah seperti yang disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Kemana 20 persen APBN yang katanya sudah diberikan sepenuhnya untuk pendidikan? Seharusnya liberalisasi dan kapitalisasi dalam dunia pendidikan di Indonesia jangan sampai terjadi. Negara dan pemerintah harus tetap memegang kendali dan menjamin masyarakat Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak dan murah. Seluruh rakyat Indonesia, entah itu orang kaya atau orang miskin, harus mendapat jaminan dari pemerintah untuk bisa mengecap pendidikan setinggi-tingginya. Wahai para pemimpin bangsa, jangan sampai kalian membuat geram Ki Hadjar Dewantara dan R.A Kartini di atas sana!!

Friday, August 14, 2009

Buku itu berjudul: “Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas”



Hari Sabtu, tanggal 1 Agustus 2009 pukul 4 sore, saya berangkat menuju Jogja National Museum Yogyakarta dalam rangka menghadiri acara bedah buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas. Keputusan untuk datang bermula dari diinvitenya saya oleh seorang teman sekampus tentang acara tersebut melalui situs jejaring maya paling terkemuka yang sudah terlanjur saya klik: attending. “Sekalian bertemu teman-teman kampus”, pikir saya. Tetapi ketika sampai di lokasi ternyata bukan teman-teman kampus yang saya temui, melainkan anak-anak Punk dari beberapa daerah (kalau tidak salah dari Surabaya, Trenggalek, dan Yogyakarta) yang dengan santainya tiduran di bawah pohon, di samping pagar, lengkap dengan dandanan dan atribut kebanggaan mereka. Benar-benar anti kemapanan sepertinya. Saya pikir mungkin mereka datang karena setelah acara bedah buku ini selesai, akan ada panggung hiburan berupa pagelaran musik punk di tempat yang sama. Tetapi pada akhirnya saya cukup terkejut mengetahui bahwa ketika acara bedah buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas dimulai, ternyata beberapa dari mereka antusias mengikuti acara tersebut. Mereka tidak canggung duduk bersama dengan pembicara, orang-orang dari penerbit, dan kritikus budaya yang berpakaian rapi, terkesan pintar, dan membawa laptop serta banyak buku bacaan sebagai referensi. Salut.

Buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas sendiri ditulis oleh John Martono dan Arsita Pinandita yang juga merangkap ilustrator bukunya. Buku yang berwujud buku bergambar (visual book) ini diterbitkan oleh Halilintar Books, penerbit baru yang mengklaim dirinya sebagai penerbit visual book dengan sorotan isu-isu tentang art, fashion, design, musik dan lifestyle, dalam kacamata cultural studies. Cukup unik. Jika kita terbiasa membaca buku-buku cultural studies yang tebal dan penuh tulisan-tulisan kecil, sekarang kita disuguhi buku cultural studies yang penuh gambar dan mempunyai dua warna di beberapa halamannya, merah serta hitam. Sayang ketika acara bedah buku berlangsung, jenis buku yang tergolong jarang di ranah cultural studies ini kurang mendapat tanggapan serta perhatian dari audience. Mereka lebih intens mendiskusikan tentang Punk, entah itu dari ideologinya, pesan yang mau disampaikan, ataupun dari dandanan Punk itu sendiri. Mereka terkesan sibuk menginterogasi dan menjejali anak-anak Punk yang mengikuti bedah buku tersebut dengan berbagai pertanyaan yang njlimet, berputar-putar penuh narasi, dan terkesan sulit dijawab. Seperti pengadilan menurut saya. Tetapi saya tidak akan menulis tentang debat kusir tersebut, saya lebih tertarik membahas kemuculan buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas, sebuah buku dalam ranah cultural studies yang bergenre visual book.

Selalu asik membaca buku bergambar (visual book)
Pertama kali mendengar isu akan munculnya visual book Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas dalam ranah cultural studies memberikan efek sedikit sumringah bagi saya pribadi. Saya berpikir mungkin buku ini akan mirip buku Kartun Riwayat Peradabannya Larry Gonick, atau mungkin seperti buku Filsuf Jagoannya Fred Van Lente dan Ryan Dunlavey. Tapi jelas versi Punk, jadi tidak akan ada gambar-gambar jayus seperti di kedua buku kartun tersebut. Yang jelas bagi saya, membaca visual book terasa lebih mengasikkan daripada membaca buku yang di dalamnya hanya ada tulisan saja. Mungkin karena di dalam visual book ada pertunjukkan yang menarik antar tulisan dan gambar yang saling silih berganti peran. Kadang tulisan menjadi peran utama dan gambar menjadi peran pembantu, dan kadang pula sebaliknya. Tulisan dan gambar juga tidak jarang ber”duet” dan mempunyai peran yang setara. Tetapi mengasikkan bagi saya belum tentu juga mengasikkan bagi orang lain, apalagi yang sudah terlanjur terbiasa mengkonsumsi buku yang isinya hanya berupa teks verbal saja. Mereka mungkin hanya akan membaca tulisannya tanpa mempedulikan gambarnya. Bisa diibaratkan processor otak mereka sudah terbiasa dengan program word, jadi susah mengolah input grafis. Padahal menurut saya, gambar dalam visual book lebih sering memegang peranan penting daripada tulisannya.

Teks yang berbicara dalam sebuah visual book memang tidak hanya berupa tulisan saja melainkan juga gambar. Dengan kata lain, gambar dalam visual book juga harus dibaca untuk mendapatkan pesan serta esensi dari apa yang diutarakan disetiap kontennya. Gambar tidak hanya menjadi komplemen dari tulisan, melainkan mereka berdua (tulisan dan gambar) mempunyai bobot yang sama serta saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Kadang-kadang tulisan yang menjadi pendukung gambar, kadang-kadang sebaliknya, gambar yang mendukung tulisan. Dan pengalaman saya ketika membaca sebuah teks yang berisi gambar dan tulisan, saya cenderung akan lebih lama memperhatikan (membaca) gambarnya daripada tulisannya. Saya (mungkin orang lain juga) akan selalu mecoba menerka dan mengira-ngira apa pesan yang ingin disampaikan pembuatnya (penulisnya) dengan gambar tersebut, apa kaitan gambar yang terpampang dengan tulisan dalam teks tersebut, apa motif dibelakangnya sehingga gambar itu yang disandingkan dengan tulisan dalam teks tersebut, dan lain sebaginya. Dan apesnya, jawabannya selalu tidak hanya satu. Mungkin begini, mungkin begitu, mungkin bukan ini, mungkin bukan itu, dan mungkin-mungkin yang lain.

Sepertinya benar kata kiasan yang mengatakan,“gambar mempunyai seribu makna”. Banyak pengertian, arti, interpretasi, dan kesimpulan yang bisa diambil dari sebuah gambar, dan pemaknaan visual tersebut terkadang sering berbeda-beda antara orang yang satu dengan orang lain. Kadang ada orang yang hanya menarik makna dan kesimpulan yang sederhana saja dari sebuah gambar, tetapi terkadang ada juga yang menelaah jauh sekali hingga ke sisi filosofinya. Tidak hanya itu, gambar juga dapat berbicara dan bercerita. Gambar bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan, baik berdiri sendiri ataupun berkolaborasi dengan media yang lain, misalnya teks verbal. Bahkan terkadang tulisan yang berlembar-lembar bisa diwakili hanya oleh satu buah gambar saja. Mungkin hal tersebut yang menyebabkan seringnya saya diam menatap selembar halaman dari buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas, meskipun tulisan dari halaman tersebut sudah selesai saya baca.

Punk itu (masih) subkultur, bukunya juga harus unusual
Banyak orang yang mengatakan bahwa ideologi Punk sekarang sekarang sudah terkontaminasi oleh pandemi virus globalisasi dan menjadi sebuah komoditas unggulan di ranah pasar kapitalisme. Sekarang mulai banyak bermunculan factory outlet (FO) dan distributor outlet (distro) yang menjual pernak-pernik serta wardrobe bergaya Punk. Simbol-simbol Punk mulai dari pin, emblem, sabuk, dan teman-temannya pun makin laris di pasaran. Lagu-lagu dari grup band Punk, baik impor maupun lokal, juga semakin eksis di toko-toko kaset dan cd. Bahkan penulis buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas ini mengungkapkan di halaman penutupnya tentang fenomena grup band melayu yang berdandan ala Punk (mohawk) tetapi memainkan musik pop melayu mendayu-ndayu. Hebatnya lagi, lagu-lagu grup band seperti inilah yang menjadi top rank pada tangga lagu di Indonesia. Tampaknya Punk sekarang sudah menjadi bagian dari fesyen dan gaya hidup populer. Oleh karena itulah, menurut penulisnya, mengapa buku ini diluncurkan, yaitu untuk mengembalikan ideologi Punk kembali ke masa ketika Punk pertama kali lahir, dimana saat itu Punk menjadi alat perlawanan, anti penjajahan, anti kapitalisme, anti rasisme, tidak hanya menjadi sebuah simbol semata seperti di era sekarang ini.

Jika ditilik dari isi materi tulisan, buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas mungkin bisa dikatakan terlalu ringan dan remeh temeh serta tidak menyingkap sisi terdalam dari sebuah ideologi yang bernama “Punk”. Saya yang termasuk kecewa dengan pembahasan yang ada pada tulisan di buku ini. Penjelasan mengenai identitas hingga aplikasi pola pikir Punk yang subkultur cenderung masih sangat sedehana dan masih mengambang. Bahkan isi tulisannya mungkin dapat dengan mudah disearch melalui mesin pencari di internet. Tulisan dalam buku ini hanya berbicara mengenai apa itu punk, sejarah punk, jenis-jenis punk, aksesoris punk, dan deskripsi Punk lainnya yang dikemas secara ringkas dan irit kata. Bahkan salah seorang pengritik budaya mengatakan bahwa isi buku ini mirip dengan buku pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa) di sekolah dasar, yang identik dengan menyebut nama tokoh, narasi cerita, serta waktu kejadian.

Tulisan di dalam buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas mungkin memang bisa dikatakan kurang memuaskan jika dibaca secara sendiri dan terpisah, tetapi tidak jika kita membaca tulisan dalam buku ini beserta dengan gambar ilustrasi hingga tata letak (layout)nya. Gambar ilustrasi beserta layoutnya inilah yang menurut saya menjadi kekuatan handal dari buku ini. Teknik penggambaran ilustrasi yang menggunakan goresan-goresan tajam dan terkesan tidak rapi justru menjadi semacam implementasi yang kuat dari sisi Punk di dalamnya. Penggunaan simbol-simbol dan ikon-ikon seperti sobekan kertas, potongan kertas yang ditempel, jahitan kain, hingga penggunaan jenis font tulisan tangan menjadi semacam luapan emosi dan improvisasi yang benar-benar anti kemapanan serta melawan arus. Inilah yang membuat buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas patut kita apresiasi. Halaman-halaman yang ditata sedemikian rupa satu persatu dengan gambar ilustrasi yang tidak sama di setiap halamannya, jelas sangat berbeda dengan buku cultural studies lainnya yang hanya menggunakan satu template saja untuk menata seluruh halamannya. Buku ini tampaknya juga sangat erat dengan dunia seni dan desain, jika dilihat dari segi layout serta tampilan visualnya.

Ketika membuka visual book Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas, kita akan disuguhi halaman-halaman yang bisa dibilang cukup aneh, jika dilihat sebagai buku cultural studies, tetapi cukup artistik dalam kacamata seni dan desain. Hampir tidak ada tampilan halaman yang sama dan identik antara halaman yang satu dengan halaman yang lain. Kadang kita melihat halaman yang hanya berisi tulisan saja tetapi dengan wujud, jenis font, dan layout yang sudah digayakan. Kadang pula kita melihat halaman dengan kolaborasi antara judul, pembahasan, dan ilustrasi yang saling mendukung serta tertata cukup artistik dan menarik. Sebagai contoh di halaman 12 dan 13 dimana kita melihat dua halaman yang dijadikan satu, dengan tulisan berukuran cukup besar yang telah digayakan dan dilayout rata tengah. Penataan layout yang rata tengah pada dua halaman yang dijadikan satu tersebut membuat kita terpaksa harus menekan lipatan buku agar bisa mengetahui huruf atau kata apa yang tersembunyi di tengah halamannya. Tidak nyaman mungkin bagi pembaca yang biasa membaca buku dengan layout standar dan dengan action yang hanya membolak-balik setiap lembar kertas, tetapi disinilah letak “Punk”nya visual book Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas. Lain lagi dengan halaman 28 dan 29 yang menampilkan gambar manual dan montage foto yang dikolaborasikan secara apik dengan tulisan standar serta tulisan artistik. Hal ini membuat kita, ketika membaca setiap halaman dalam buku bergambar ini, terpaksa harus memakan tempo yang lebih lama dari membaca buku biasanya agar dapat mengamati dengan seksama gambar beserta layoutnya. Dengan demikian kita bisa mendapatkan esensi dan pesan yang disampaikan meskipun buku ini hanya memiliki sedikit tulisan di dalamnya.

Secara keseluruhan mungkin inilah make-up serta fesyen yang seharusnya bagi sebuah buku Punk, dimana tampilan visualnya sangat berbeda dengan buku-buku lainnya, khususnya yang mempunyai ranah sama, cultural studies. Tampaknya buku ini sukses menjadi buku yang unconventional, subkultul, dan mendobrak batasan formal. Bisa dibilang buku Punk! Fesyen-Subkultur-Identitas mampu menjadi buku yang kentara “Punk”nya meski volume tulisannya sangat ringan. Dari sinilah sisi eksistensi dari ideologi Punk yang saat ini sudah mulai mengabur kembali terlihat, dimana ia melawan arus, tidak mau sama dengan yang lain (pasaran), dan menjadi diri sendiri, meskipun pada akhirnya buku ini terpaksa harus tetap menjadi sebuah komoditas kapitalis yang diperjualbelikan di toko-toko buku dengan target meraup laba. Hal ini tidak salah karena memang semua budaya di dunia saat ini sedang bertransformasi, progresif, dan semakin bergerak menuju satu keseragaman budaya, yaitu budaya global. Tetapi tetap saja sangatlah gegabah jika buku ini disamakan dengan buku PSPB anak sekolah dasar. Selamat membaca dan berekspresi.

Sunday, June 7, 2009

Sosialisme Post-Reformasi


Sosialisme, kata ini sekarang mulai kembali sering disebut-sebut seiring maraknya isu neoliberalisme menjelang pemilihan presiden tahun 2009. Isu neoliberalisme sendiri mulai muncul ke permukaan ketika salah satu kandidat presiden incumbent dan sering dikatakan mendapatkan polling tertinggi dari kandidat lainnya, menunjuk seorang yang dianggap bermazhab liberal sebagai calon wakil presiden yang akan mendampinginya pada pemilihan presiden bulan Juli tahun 2009. Protes dan keberatan pun mulai muncul dari berbagai kalangan masyarakat dengan ditandai banyaknya aksi menolak dieksistensikannya paham liberalisme. Mulai dari aksi demo mahasiswa, pembuatan spanduk anti-liberalisme, hingga banyaknya diskusi dan debat yang berkaitan dengan dialektika liberalisme. Penolakan tersebut pada dasarnya adalah bertujuan untuk menolak calon pemimpin bangsa yang menggunakan mazhab liberalisme dalam memimpin dan mengelola negara, khususnya di bidang ekonomi dan sosial-budaya. Ekonomi liberal dianggap akan semakin mempersulit dan memperburuk hidup masyarakat Indonesia yang saat ini sudah sangat memprihatinkan. Liberalisasi di bidang pendidikan juga dianggap akan membuat pendidikan di Indonesia semakin mahal dan sulit terjangkau. Dari debat publik, diskusi dan analisis para ahli mulai sering disebutkan istilah ekonomi kerakyatan yang dianggap sebagai lawan dari ekonomi liberalisme, salah satu cabang liberalisme yang paling populer. Ekonomi kerakyatan sendiri pada dasarnya lebih cenderung mengarah ke mazhab sosialisme meskipun terkadang orang-orang enggan menyebut kata sosialisme karena masih saja dianggap identik dengan komunisme.

Ekonomi : Sosialisme vs Liberalisme
Sosialisme adalah paham yang bertujuan membentuk negara kemakmuran dengan usaha kolektif yang produktif dan membatasi milik perseorangan (e-dukasi.net). Sedangkan liberalisme, masih menurut e-dukasi.net, dapat diartikan sebagai paham kebebasan yang menghendaki adanya kebebasan individu, sebagai titik tolak dan sekaligus tolok ukur dalam interaksi sosial. Menurut Wikipedia.org, ekonomi sosialisme adalah sebuah paham yang berpijak pada konsep Karl Marx tentang penghapusan kepemilikan hak pribadi. Dengan kata lain prinsip ekonomi sosialisme menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditas penting dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak seperti air, listrik, bahan pangan, dan sebagainya. Sedangkan liberalisme menurut Wikipedia.org adalah sebuah paham yang menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama serta menghendaki adanya pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, serta menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu.

Dari sini jelas terlihat adanya sisi yang saling bertolak belakang dan berlawanan dari mazhab sosialisme dan liberalisme, khususnya di bidang ekonomi. Ekonomi liberal menuntut adanya kebebasan individu yang tak terbatas dan kendali ekonomi yang sepenuhnya diserahkan kepada pasar. Negara tidak diperbolehkan melakukan monopoli dan ikut campur, apalagi melakukan kontrol dan intervensi. Itulah yang meyebabakan banyak orang mengatakan bahwa ekonomi liberalis merupakan sebuah mazhab yang dijunjung dan menjadi panutan para pelaku ekonomi yang sudah mapan (bisnisman kaya). Lalu apa peran pemerintah dalam ekonomi liberal? Dalam ekonomi liberal peran pemerintah hanyalah sebagai pengawas agar kebebasan tak terbatas setiap individu tetap dapat terpenuhi dan terlindungi. Ya, hanya sampai disitu peran pemerintah dalan sistem ekonomi liberal. Sistem ekonomi inilah yang nantinya akan bermuara pada sistem ekonomi kapitalisme.

Jika ekonomi liberalisme menuntut adanya kebebasan tak terbatas dari setiap individu untuk melakukan kegiatan ekonomi dalam suatu negara, maka berbeda dan bertolak belakang dengan ekonomi sosialisme. Sistem ekonomi sosialisme menuntut peran pemerintah dalam perekonomian sebuah negara demi tercapainya pemerataan sosial, penghapusan kemiskinan, dan kemakmuran bersama. Dalam sistem ini komoditas-komoditas perekonomian yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak seperti air, minyak, listrik, dan sebagainya dikuasai dan dikendalikan oleh negara. Dengan hal ini diharapkan kesenjangan sosial dalam masyarakat dapat teratasi dan akhirnya dapat membawa kehidupan seluruh masyarakat menuju ke arah kemakmuran. Sistem ekonomi yang cenderung ke arah sosialisme dan sering dikatakan sebagai sistem ekonomi kerakyatan inilah yang dianggap cocok dan pas jika diterapkan di Indonesia. Kondisi masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih berada di bawah garis kemiskinan menuntut adanya peran aktif pemerintah dalam bidang ekonomi agar kebutuhan pokok masyarakat dapat tetap terjamin dan terpenuhi. Dengan adanya peran pemerintah tersebut diharapkan tidak ada cerita adanya orang kelaparan dan kekurangan makanan serta air bersih. Jaminan dari pemerintah ini menjadi penting mengingat daya beli dan pendapatan masyarakat Indonesia yang masih rendah dan jauh dari kecukupan. Jika di Indonesia diterapkan sistem ekonomi liberal apalagi global, dipastikan kehidupan rakyat Indonesia akan semakin tercekik dan perkonomian rakyat Indonesia sedikit demi sedikit akan hancur tergerus arus globalisasi dan modal asing. Rakyat miskin yang berpendidikan rendah dan tidak memiliki keahlian serta modal besar akan semakin terpinggirkan. Maka benar-benar menjadi nyatalah istilah “yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin”.

Sosialisme di era pasca-reformasi
Sering orang mengatakan bahwa sebuah paham akan selalu berkembang sesuai dengan jamannya. Jika dulu komunisme sempat hampir mencapai puncaknya, kini paham tersebut semakin surut. Hanya beberapa negara saja yang masih memakai paham tersebut. Komunisme yang kini dipakai oleh Cuba pun tidak lagi identik dengan komunisme yang sempat jaya di Uni Sovyet dulu, dengan kata lain paham ini mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman. Begitupun dengan paham sosialisme. Sosialisme yang muncul di Indonesia sejak jaman pergerakan dulu di era Tan Malaka, hingga jaman pasca reformasi seperti sekarang di era Fadjroel Rahman banyak mengalami perubahan dan perkembangan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa pemikiran tokoh-tokoh sosialisme Indonesia seperti Tan Malaka, Sutan Syahrir, hingga Fadjroel Rahman itu berbeda satu sama lain. Perbedaan tersebut selain disebabkan oleh pemahaman serta pengaruh pemikiran sosialisme yang menjadi dasar pijakan tokoh-tokoh tersebut juga disebabkan oleh konteks sosialisme yang ada pada jamannya masing-masing. Sosialisme era pergerakan nasional di jaman Tan Malaka, sosialisme pasca-kemerdekaan di era Sutan Syahrir, dan sosialisme pasca-reformasi yang kembali muncul setelah sekian lama bungkam di era Fadjroel Rahman.

Pada jaman Tan Malaka dimana Indonesia belum merdeka dan masih menjadi negara jajahan, sosialisme yang didengung-dengungkan Bapak Republik Indonesia ini lebih pada penerapan sosialisme dalam ranah ideologi. Ideologi sosialisme di era ini digunakan untuk mencari keadilan bagi rakyat Indonesia yang pada saat itu banyak menjadi buruh dan pekerja dan masih dilanggar dan tidak diperhatikan haknya. Perkembangan sosialisme di era ini memunculkan istilah Massa-Actie, yaitu gerakan-gerakan oleh buruh yang menuntut keadilan dan diperhatikannya hak-hak asasi mereka. Mungkin pada saat sekarang lebih dikenal dengan istilah aksi mogok dan demonstrasi. Kehidupan buruh dan kemakmuran rakyat Indonesia dituntut untuk lebih diperhatikan pada sosialisme era ini. Aksi-aksi progressif Tan Malaka ini membuat Tan Malaka dianggap sebagai sosialis kiri dan terpengaruh paham komunisme yang sempat melejit di Uni Sovyet.

Setelah Indonesia merdeka dan memasuki tahap pembangunan dan penguatan ekonomi muncul dan menunjukkan tajinya para pemikir-pemikir sosialis Indonesia yang lain. Berbeda dengan Tan Malaka yang berpikiran sosialis radikal dan progresif, sosialisme Sutan Syahrir lebih moderat dan menggunakan jalur diplomasi. Bisa dikatakan jika Tan Malaka menganut paham sosialisme kiri, Sutan Syahrir lebih ke arah sosialisme kanan. Dengan kata lain ada unsur liberal dalam sosialisme Sutan Syahrir. Sumbangsih Sutan Syahrir yang paling besar dan mudah diingat serta menjadi bukti penerapan paham sosialis moderat adalah dirubahnya sistem pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer, dimana Syahrir menjadi perdana menteri pertamanya Hal ini pada dasarnya digunakan dengan tujuan untuk membatasi kekuasaan presiden pada saat itu. Sutan Syahrir juga memberi pengaruh dengan munculnya istilah “sosialisme kemanusiaan yang adil dan beradab”. Pada jaman Sutan Syahrir ini sosialisme yang dianutnya banyak dirancukan dengan komunisme. YB Mangunwijaya bahkan berpendapat bahwa “seolah-olah sosialisme Syahrir sama sebangun dengan komunisme, sedang kapitalisme, lebih buruk lagi kapitalisme semu bahkan didewakan sebagai penjabaran Pancasila dalam ekonomi”. Manguwijaya melanjutkan bahwa sosialisme lndonesia Syahrir bukan berdasarkan marxisme, bahkan sosialismenya menentang komunisme. Dalam hal ini Syahrir berpendapat bahwa pemerintahan tidak bisa disamakan dengan kelas. Pemerintahan yang ada entah itu pemerintahan buruh atau borjuasi tidak dipermasalahkan, alias sama saja. Inilah mengapa Sutan Syahrir dianggap sebagai sosialis kanan anti-komunis yang tetap mempertahankan hak hidup kaum kapitalis. Pada jaman ini muncul juga istilah “koperasi” yang didengung-dengungkan dan dipilih Mohammad Hatta daripada ekonomi kapitalis sebagai bentuk masih adanya paham-paham sosialisme yang berpengaruh di Indonesia.

Setelah cukup terkubur dan tenggelam pada masa pemerintahan Orde Baru, pemikiran sosialisme kembali muncul di era pasca-reformasi. Pemikiran-pemikiran sosialisme dalam ranah ekonomi muncul akibat dampak dari ambruknya sistem ekonomi liberal seiring terjadinya krisis keuangan global. Perekonomian Barat yang menganut sistem liberalisme akhirnya mencapai titik anti-klimaks yang menyebabkan bursa-bursa saham hancur dan pertumbuhan ekonomi minus. Pemikir-pemikir sosialis Indonesia di era pasca-reformasi seperti Fadjroel Rahman beranggapan bahwa krisis yang terjadi akibat dari kegagalan pasar. Amerika tidak mau menandatangani internasional human right ekonomi sosial dan budaya, karena yang terpenting bagi mereka hanya sipil dan politik. Sedangkan ekonomi, sosial dan budaya diserahkan kepada mekanisme pasar. Inilah yang mendapatkan penentangan dari Fadjroel Rahman. Fadjroel lebih menekankan kebebasan sebebas-bebasnya hak manusia dalam bidang politik, tetapi dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya nanti dulu. Jaminan sosial universal harus tetap ada. Semua orang harus mendapatkan hak yang sama, pendididkan yang sama, kesehatan yang sama, tanpa membedakan pembagian dari prosesnya yang paling bawah hingga kelompok target yang lebih luas. Negara harus menjamin pembagian yang adil dan merata dalam bidang ini, yaitu sosial, ekonomi, dan budaya. Sosialisme di era Fadjroel Rahman lebih terlihat mengarah ke liberalisme kiri, dimana tidak seratus persen membenarkan adanya pengaruh dan peran pemerintah dalam kehidupan berpolitik warganya, tetapi cukup dengan adanya jaminan kesamaan dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya. Liberalisasi dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya akan membawa dampak yang buruk bagi kehidupan rakyat Indonesia dan kemajuan bangsa Indonesia, karena memang rakyat Indonesia belum siap menghadapi paham liberalisme ini. Sayangnya liberalisasi di bidang-bidang ini sudah mulai muncul akibat terpengaruhnya Indonesia oleh globalisasi dan pemerintahan gaya Barat.

Dalam bidang ekonomi misalnya, dalam pasal 33 UUD 1945 jelas diterangkan tentang perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Lalu diteruskan dengan perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua orang. Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kenapa pasal tersebut berbunyi seperti itu? Karena para “founding father” kita tahu bahwa jika cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup rakyat jatuh ke tangan penguasaan personal atau bahkan asing maka rakyat bisa tertindas. Jika tidak ada jaminan masyarakat mendapatkan kesamaan hak yang sama di bidang ekonomi, dengan kata lain hanya yang kaya yang bisa membeli, rakyat akan semakin jauh menderita dan terpuruk. Negara harus tetap mengatur dan mensubsidi kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat karena memang rakyat Indonesia masih membutuhkan subsidi tersebut. Rakyat Indonesia sampai saat ini belum siap memasuki perekonomian liberal. Jangankan rakyat Indonesia, pemerintah Indonesia sendiri saja belum siap. Buktinya perusahaan pertambangan banyak yang jatuh dan dikuasai asing. Kalau misalnya liberal, kenapa tidak bisa dikuasai orang Indonesia sendiri? Ironisnya Indonesia hanya mendapatkan keuntungan dari pajaknya saja. Aneh memang, Indonesia yang kaya akan minyak dan hasil tambang lainnya harus mengikuti pasar global dalam menentukan harga minyak yang sebenarnya dihasilkan dari perut Indonesia sendiri. Kenapa harganya tidak bisa ditentukan sendiri? Inilah dampak dari liberalisme yang menyebabkan Indonesia mengalami imperialisme gaya baru. Pejajahan yang dulu dilakukan secara fisik dan penguasaan wilayah, kini cukup dengan penanaman modal asing. Over capitalism kembali menguasai perekonomian Indonesia saat ini.

Contoh lainnya adalah dalam bidang pendidikan yang saat ini mulai menjurus ke arah liberalisme-kapitalisme. Munculnya Badan Hukum Pendidikan (BHP) dianggap sebagai bukti konkrit dan titik kulminasi liberalisasi dan kapitalisasi dalam bidang pendidikan di Indonesia. Janji adanya BHP yang akan membuat pendidikan di Indonesia semakin murah dan terjangkau hanya omong kosong belaka. Institusi pendidikan yang belum siap akan adanya undang-undang ini hanya bisa mendapatkan dana operasional kampus dari para mahasiswanya. Hasilnya biaya pendidikan bertambah dengan diterapkannya sumbangan-sumbangan yang beraneka ragam. Kelas yang dibuka pun semakin banyak (ditambah dengan kelas-kelas non-reguler misalnya) demi mendapatkan dana yang semakin banyak pula. Semakin banyak mahasiswa, semakin banyak uang yang datang dan mengalir. Hasilnya proses pendidikan dan transfer of knowledge menjadi tidak efektif. Lalu dimanakah peran pemerintah yang katanya “mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjamin rakyat Indonesia mendapatkan pendidikan”? Bagaimana mau jadi bangsa yang bermartabat kalau rakyatnya ingin bersekolah saja masih susah. Lagi-lagi rakyat hanya bisa mengeluh.

Oleh karena itu benar adanya jika di Indonesia. masih dibutuhkan sistem sosialisme di bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Negara dan pemerintah harus tetap bertanggung jawab mengatur dan mengelola bidang ekonomi dan pendidikan masyarakat. Cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak harus tetap dikuasai negara dan digunakan sepenuhnya untuk kemakmuran bangsa. Negara harus tetap bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalaupun ada BUMN yang merugi itu bukan salah sistem ekonomi sosialis-kerakyatannya, melainkan pada pengelolaan dan operasionalnya. Kalau misalnya Garuda merugi terus, bukan lantas menjual Garuda kepada perorangan atau bahkan asing, melainkan perbaiki sistem pengelolaan dan manajemen pengoperasionalannya. Kalau misalnya masih banyak rakyat Indonesia yang miskin, bukan berarti harus mengubah sistem ekonomi dari sosialis-kerakyatan menjadi liberal, tetapi perbaiki penerapan dan implementasi dari paham ekonomi sosialis-kerakyatan tersebut. Jangan mengaku penganut paham sosialis-kerakyatan tetapi dalan kenyatanaanya menjual BUMN dan menerbitkan UU BHP. Sosialisme pasca-reformasi memang tidak membenarkan adanya intervensi yang berlebihan dari pemerintah di bidang politik. Rakyat harus bebas sebebas-bebasnya dalam menentukan pandangan politik mereka. Tetapi dalam bidang ekonomi sosial dan budaya, pemerintah harus tetap berperan aktif memjukan kesejahteraan umum. Sosialisme pasca-reformasi memang berbeda dengan sosialisme jaman dulu. Jika dulu sosialisme yang berkembang murni sosialisme dan condong ke arah komunis, lalu sosialisme yang menjurus liberal, kini sosialisme pasca-reformasi lebih condong ke liberal tetapi tetap memperhatikan jaminan sosial masyarakat. Boleh liberal dalam bidang politik, bahkan liberal seliberal-liberalnya, tapi nanti dulu jika ingin menerapkan paham liberalisme di bidang ekonomi, sosial, dan budaya. []

Saturday, June 6, 2009

Orde Militer: Sebuah Potret Pelanggaran HAM


Pernahkah Anda merasa bangga jika memakai baju loreng? Pernahkah Anda merasa gagah jika potongan rambut Anda pendek satu centimeter? Ataukah Anda merasa aman jika tertempel stiker “Keluarga Besar TNI”, “Anggota Kopassus” atau “Anggota POLRI” pada rumah, mobil, atau sepeda motor Anda? Jika Anda pernah merasa seperti itu, atau bahkan saat ini Anda merasa seperti itu, berarti Anda telah tertular wabah “Militerholic”. Itu sebutan khusus karangan saya untuk orang-orang yang merasa berjiwa militer meskipun hanya memakai atributnya saja. Orang-orang seperti ini banyak kita jumpai beberapa puluh tahun lalu bahkan beberapa masih konsisten hingga saat ini. Sebegitu hebatkah militer hingga pantas untuk disanjung dan dielu-elukan oleh banyak orang? Mari kita tilik lebih lanjut dengan kembali ke masa lalu dimana militer mulai menunjukkan eksistensi dan kekuasaannya di Indonesia.

Militer mulai benar-benar menunjukkan tajinya di Indonesia ketika terjadi Peristiwa G 30S/ PKI yang sampai saat ini masih belum terkuak siapa dalang sebenarnya dibalik peristiwa tersebut. Tujuh jenderal dan perwira diculik oleh sekelompok orang bersenjata yang dalam film dokumenternya (masih belum teruji kebenarannya) merupakan Pasukan Cakrabirawa, sebuah pasukan pengaman presiden pada masa itu. Ketujuh jenderal dan perwira tersebut akhirnya ditemukan meninggal dan jenazahnya ditemukan di Lubang Buaya. Meninggalnya para jenderal tersebut menyulut terjadinya kechaosan dalam pemerintahan dan masyarakat. Akhirnya munculah “cerita” pemberian Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) oleh Presiden RI pada saat itu, Ir. Soekarno, kepada Letjen Soeharto. Surat yang sekarang tidak diketahui rimbanya tersebut digadang-gadang berisi perintah dari Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto untuk mengembalikan stabilitas nasional yang saat itu sedikit goyah akibat Peristiwa G 30S/ PKI.

Turunnya surat perintah itu ternyata diartikan secara “hiperbola” oleh Letjen Soeharto. Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Menteri/ Panglima Angkatan Darat (PANGAD) melakukan tindakan gegabah dengan memvonis PKI sebagai dalang dibalik pembunuhan ketujuh jenderal dan panglima itu. Akhirnya aksi menumpas PKI sampai keakar-akarnya pun digalakkan. Masyarakat yang saat itu sedang labil dengan didukung RPKAD mulai melakukan pembantaian kepada siapa saja yang dituduh PKI atau antek komunis. Tak terhitung secara pasti berapa orang yang terbunuh dari peristiwa “perang saudara” tersebut. Pihak TNI menyebutkan korban tewas sekitar 78.000 jiwa. Tetapi The Washington Post, sebuah harian surat kabar dari Amerika Serikat, menyebutkan korban meninggal mencapai 500.000 jiwa¹. Selain PKI, etnis Tionghoa yang berada di Indonesia pun ikut terkena imbasnya. Banyak dari mereka yang dituduh komunis hingga kemudian dibunuh, diperkosa, diusir, hingga dikekang keeksistensiannya. Setelah peristiwa tersebut akhirnya Orde Baru berkuasa dengan Soeharto sebagai lakon utamanya setelah diangkat menjadi Presiden RI lewat Sidang Umum MPRS. Rezim Milter akhirnya resmi tegak berdiri di Indonesia dan siap “mengepakkan sayap tajamnya”.

Tampilnya Rezim Militer di pemerintahan akhirnya membawa dampak diberikannya peran baru bagi TNI, selaku almamaternya. Mereka dilegalkan membentuk kekuatan sosial-politik bertajuk ABRI. Dengan kata lain, TNI tidak hanya menjadi alat keamanan negara tetapi juga menjadi kendaraan politik, atau yang terkenal dengan Dwifungsi ABRI. Mereka berkamuflase menjadi Partai Golongan Karya. Terhitung Golkar menjadi partai dominan dalam tujuh kali pemilu berturut-turut². Pelencengan fungsi dari TNI itu praktis mendapat serbuan kritik dari segelintir aktivis dan mahasiswa. Dan atas nama keamanan negara serta stabilitas nasional, TNI secara legal diperbolehkan untuk menggunakan wewenangnya, dalam hal ini tentu saja untuk menggunakan senjata dan melakukan tindak kekerasan.

Mulailah terjadi peristiwa-peristiwa tragis di bumi Indonesia. Pada sekitar tahun 80an muncul “Petrus” atau Pembunuhan Misterius (ada yang menyebutnya Penembak Misterius). Orang-orang yang dianggap mengganggu stabilitas nasional diculik dan dibunuh. Tak kurang sekitar 5000 sampai 10.000 orang yang dianggap preman hilang dan tidak pernah kembali. Selain itu masih ada peristiwa lain yang juga tidak kalah mengerikan yaitu “Peristiwa Tanjung Priok”. Sebuah kelompok pengajian yang dianggap menyimpang dari Pancasila dibantai secara massal. Sekitar 1500 orang dikepung oleh pasukan bersenjata beserta truk-truk militer dan kendaraan berat. Ribuan peluru dimuntahkan dan orang-orang tak bersenjata tersebut berjatuhan. Setelah itu mayat-mayat mereka diangkut truk-truk militer dan mobil pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk membersihkan TKP. Lenyaplah bukti dan sisa-sisa pelanggaran HAM berat yang pernah terjadi di Indonesia.

Kebrutalan militer terhadap ormas Islam ternyata masih berlanjut. Kelompok Pengajian Warsidi, yang juga dianggap menyimpang dari Pancasila, tidak ketinggalan dibantai oleh tiga peleton Batalion 143 Gatam (sekitar 100 orang) dan 40 anggota Brimob di kawasan Umbul Cihideung. Tidak kurang sekitar 250 orang tewas dan sebagian darinya adalah anak-anak dan perempuan³. Peristiwa tersebut masih diikuti dengan penculikan para pedakwah dan aktivis Islam. Pemerintahan Orde Baru memang tidak menginginkan Islam berkembang menjadi sebuah kekuatan politik. Pancasila harus menjadi azas tunggal dalam sebuah partai politik dan ketetapan tersebut banyak ditentang oleh kalangan Islam. Konsekuensinya, mereka harus berhadapan dengan pasukan penjaga keamanan dan stabilitas nasional, dalam hal ini tentu saja TNI.

Kisah kebrutalan militer tidak berhenti sampai disini saja. Kelompok atau orang-orang yang tidak sejalan dengan pemerintah terus diburu dan dibunuh. Pelanggaran HAM oleh penguasa dan militer mulai merajalela. Mulai dari peristiwa hilangnya aktivis buruh Marsinah yang akhirnya ditemukan tewas, pelarangan beredarnya buku karangan Pramoedya Ananta Toer dan karangan para aktivis Islam seperti Abdul Qodir Djaelani, hingga pencekalan buku yang memuat pelurusan Peristiwa G 30S/ PKI yang ditulis oleh orang asing. Pers pun dikekang dan tidak boleh memuat berita secara bebas, riil dan nyata. Wartawan yang liputannya mulai menyerempet kejahatan para penguasa diburu dan dieksekusi. Salah satunya Udin, wartawan yang tewas terbunuh setelah meliput korupsi di kalangan pejabat. Semuanya itu dianggap mengancam stabilitas nasional dan keutuhan bangsa sehingga perlu dibasmi. Pengekangan kebebasan dan pelanggaran HAM itu jelas mengganjal hati para aktivis dan mahasiswa. Gerakan bawah tanah anti pemerintahan mulai bermunculan. Terjadilah demonstrasi-demonstrasi damai yang pada akhirnya menjadi tragedi berdarah di Indonesia.

Diawali dengan penyerangan markas PDI pimpinan Megawati oleh massa PDI Soerjadi yang didukung gerombolan orang kekar berambut cepak yang ber”mimikri” dengan kostum PDI Soerjadi. Puluhan orang dinyatakan tewas dan terluka. Kebrutalan dilanjutkan dengan penangkapan aktivis Partai Rakyat Demokrat (PRD) yang diduga proMegawati. Di luar itu, terjadi juga tragedi berdarah dalam demo mahasiswa di Makassar, Jogja, Solo, Surabaya, Bali, dan sebagainya. Penculikan dan kekerasan terhadap aktivis dan mahasiswa semakin sering terjadi dan menyebabkan emosi rakyat ikut memuncak. Kerusuhan dan penjarahan terjadi di berbagai tempat, mulai dari Situbondo, Tasikmalaya, sampai Lhokseumawe. Dan puncak pelanggaran HAM oleh militer adalah terjadinya tragedi Semanggi dan Trisakti. Sejumlah mahasiswa tewas tertembak saat melakukan demo simpatik. Mahasiswa dan rakyat akhirnya bersatu dan bergerak menduduki gedung MPR/ DPR. Dampak kejadian ini adalah lengser keprabonnya Soeharto setelah 32 tahun berkuasa. Dengan kata lain Orde Baru tumbang dan digantikan Orde Reformasi.

Pergantian orde ini ternyata tidak membuat pelanggaran HAM di Indonesia berhenti. Pengaruh kebrutalan militer dan penguasa di jaman dulu ternyata masih melekat erat pada orang-orang yang kini berkuasa di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Militer masih menunjukkan eksistensinya meskipun tidak secara langsung. Banyak pensiunan ABRI yang menjadi pejabat, birokrat, atau pimpinan partai politik. Bahkan presiden sekarang pun dari kalangan militer. Sejalan dengan itu, kasus pelanggaran HAM di Indonesia seakan tidak pernah bisa “tutup buku”. Kisah pelanggaran HAM berat oleh militer dan penguasa di masa Orde Baru tidak terusut sampai tuntas. Pemerintah seakan masih pakewuh untuk membawa mantan penguasa Orde Baru sebagai aktor utama dan antek militernya ke meja hijau.

Kasus Orde Baru belum selesai, kini muncul pelanggaran HAM baru yang tidak kalah memprihatinkan yaitu kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. Para petinggi Badan Intellegent Negara (BIN) dicurigai berada di balik kasus pembunuhan terencana ini. Dan seperti sudah menjadi tradisi, kasus inipun belum mampu menemui titik terang. Belum lagi pelanggaran-pelanggaran HAM lainnya mulai dari penggusuran dengan gaya militer yang semakin merajalela, lumpur Lapindo yang menyengsarakan banyak orang, penertiban dengan kekerasan para pedagang kaki lima, hingga melejitnya harga-harga kebutuhan pokok yang membuat rakyat miskin semakin menderita. Pelanggaran HAM di Indonesia memang susah berhenti karena terkesan sudah “akut” dan menjadi tren/ budaya warisan. Satu kasus belum selesai, muncul kasus-kasus pelanggaran HAM yang lain. Begitupun dengan budaya militerisme yang pengaruhnya masih terasa hingga saat ini. Mulai dari kekerasan yang seakan sudah menjadi cara utama memecahkan masalah, budaya tawuran antar geng atau kelompok, hingga kriminalitas yang semakin lama cenderung semakin meningkat. Tampaknya semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dipopulerkan oleh R.A Kartini susah diterapkan di negeri kita tercinta ini. So, berminat masuk Akmil?[]